selamat datang dalam sajak-sajakku



MALING CLURING

kau ingin membunuhku?
bunuh saja!

tapi aku tak mati
hanya dengan tebasan atau tembakan berkali

tubuhku air campur angin
jika menyentuh warna
jadilah warna
menyentuh benda
jadilah apa saja.
seperti cinta
kata plato

kau kaget?
hilang jejak
memang seharusnya

aku maling cluring
pencinta kejahatan untuk kebaikan
bukan sebaliknya.

jika memang tak ada kebahagian lain
selain kematianku

cari aku di antara orang-oarang terbuang
dan teraniaya
yang berumah di tepi kali dari kardus bekas
bersama limbah, sampah
dan nyamuk-nyamuk

potong tubuhku menjadi tiga bagian
masing-masing harus dipisah sungai atau lautan
baru di situ aku mati terbunuh

atau biar aku tetap liar
datang-hilang serupa bayang-bayang
menjadi kalijaga
terus menjaga tongkat hidup

dan memukulmu
agar memancar air kedamaian
seperti musa sebelum pingsan

Surabaya, 2007

3 komentar:

  1. AKU PERNAH DENGAR KATA MALING CLURING DARI BUKU GAJAHMADA
    DAN BILA ANDA TAHU TENTANG CATATAN KI WIROTAWIRAGATI YG MEMPUNYAI SEBUTAN MALINGCLURING. MOHON BANTUANNYA.
    MATOR SAKALANGKONG.

    BalasHapus
  2. sajak yg sitimewa, salam dari sarjana bangkai.

    BalasHapus
  3. syair yg sitimewa bang.
    izin share...

    BalasHapus

tentang

Foto Saya
jakarta, Indonesia
Sofyan RH. Zaid nama pena dari Supyan. Lahir di Sumenep, Batang-batang 08 Januari 1986. Belajar menulis sejak kelas II MTs. Miftahul Ulum Batang-batang. Karyanya berupa puisi, essay dan prosa sudah pernah dimuat dibeberapa media lokal dan nasional,semiasal Horison, Koran Sindo, Annida, Sahabat Pena, News Letter Jendela, Kuntum, Minggu Pagi dan antologi bersama Risalah Dua Jari (Andalas,2003), Biarkan Aku Meminangmu Dengan Puisi (EKBT,2006), Merapati Jingga (Antologi Penyair Muda Jawa Timur,Balai Bahas Surabaya,2007), Yasin (Anotologi Penyair Pesantren Jawa Timur,Balai Bahasa Surabaya,2007). Mantan pembina sanggar di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk sekalikus menjadi alumni ini, selain pernah memenangkan beberapa sayembara kepenulisan puisi, juga masuk dalam seleksi penyair Madura Majalah Sastra Horison Jakarta (September 2006). Kini sebagai mahasiswa di Jurusan Falsafah Dan Agama Universitas Paramadina dan aktif mengelola Paramadina Puisi Club. Tinggal di Jakarta

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-