26 Agustus 2014

Solo dalam Puisi, Pawon, 2014

Sajak-sajak Sofyan RH. Zaid


GREENCAP, 1949
- Mengenang Samto

seperti pesta, perang sudah berakhir # airmata dan darah berhenti mengalir
senjata dilempar # berubah mawar
tinggal bercak dan jejak # kemudian menjadi sajak

di jalan pulang menuju rumahnya # lelaki itu ditembak tepat di dada
jatuh tersungkur ke tanah # tercium aroma bunga basah
anak dan istrinya menunggu # sampai akhirnya menjadi batu

sementara di gading pengungsian # orang-orang dibantai seperti hewan
airmata dan darah kembali mengalir # perang tidak sebenarnya berakhir
langit gelap # bumi kalap

dan kita tahu dihianati # lebih perih dari mati

2014

BENGAWAN KITA

jadikan aku sungai # tempat membuang derai
kusampaikan pada laut # kukabarkan pada larut

jadikan aku sungai # tempat melempar bangkai
kusampaikan pada ikan # kukabarkan pada sampan

aku mengalir dari hulu ke hilir # senantiasa menuju laut terakhir
laut adalah rumahku # tempat menyimpan segala pilu

2014

Dari Negeri Poci 5; Negeri Langit (Antologi Puisi 153 Penyair Indonesia) Kosa Kata Kita, 2014

BUTTERFLY EFFECT

dari arah yang berbeda # kita bertemu di taman kota
aku dari kampung filsafat # kau dari pedalaman tarekat
sungguh pertemuan kita # pertemuan peradaban yang tua
pohon akasia jadi saksi # doa langit, restu matahari
angin menjatuhkan serbuk sari # sampah plastik tumbuh melati

kita berdekat-dekatan # tapi tidak bersentuhan
jarak jadi batas diri # bulu kuduk tegak berdiri
mata saling menangkap # bibir berderap-derap
napasku buah alpukat # napasmu susu cokelat
napas kita bersatu # semerbak aroma rindu

kita bercakap tentang peri # juga riwayat sebuah negeri
di tepi jalan anak-anak itu # memukul gendang bertalu-talu
sebuah tangan menjulur # kita berikan roti dan anggur
dari bibirnya bahasa gurun # juga kabar dari halimun

tiba-tiba dari pundak kita # tumbuh sayap warna senja
pada tiap kepakan # meninggi tujuh jengkalan
semakin ke atas # dada semakin luas
di kanan kita lihat kesetiaan # di kiri ketenangan
keduanya malaikat penjaga # jiwa kita yang menyala


tak perlu takut pada ketinggian # selama masih ada lautan
kita menjadi kupu-kupu # terbang bebas ke seluruh penjuru
kepak sayap kita di Jakarta # mencipta topan di Canberra
melayang rendah dan tinggi # menjaga keseimbangan akal dan hati

seketika sayap lenyap # kita jatuh tengkurap
tidak ada darah dan luka # serupa jatuh dari surga
kita kembali berpisah # berjalan menukar arah

2014


LUAR BATANG

kelak bersama sepi # aku mengajakmu kemari
ke tempat dimana aku dapat # mengingatmu dengan nikmat
berdiri depan gerbang # mata menebar pandang
tangan-tangan hidup membelai # mata-mata maut berderai

di sini apa makna kertas # apa juga makna batas
jiwaku meredam suara benda # melupa segala warna
hati bergantung # akal terpasung
aku mendaki puncak menara # melihatmu samar di sana

kelak bersama sepi # aku mengajakmu kemari
ke tempat dimana aku dapat # mendengar dialog ruh dan jagat

2013


MAWAR SIDRAH


kau bilang kelam di kamar # kepalamu tumbuh mawar
dari kamar lain # aku kirim nyala lilin
juga dari kepalaku # pohon sidrah tumbuh layu

jam berhenti sejenak # terdengar suara cecak
seperti denting ribuan logam # kau datang padaku serupa malam
aku lupa menutup pintu # aku luka melupa nafsu
di kamar kita menjadi bisu # mawar dan sidrah bersatu
; jibril, dimana wahyu? # khidir, dimana waktu?

di luar, langit terbakar api # tahun seketika berganti
cahaya meledakkan harapan # mayat sepi berserakan
dari rambut kita yang uban  # masa lalu berguguran

2014


MALAM JUM'AT

aku mengelus-elus bukit # sebelum mendaki sampai langit
bukit mengepulkan asap # aroma minyan menyeruap
hantu masa lalu gentayangan # mengitari pohon kesunyian

ini malam jum'at # orang-orang menulis azimat
pada lembar badan # dan kering kulit macan
malaikat yang menjaga # bertamu ke dada
iblis berkalung sorban # serigala menelan bulan


aku mulai mendaki bukit # lalu sampai di langit
dari ketinggian aku melihat # bukit dipenuhi mayat
orang-orang yang mati # dalam perang melawan diri sendiri

2014

Indopos, Sabtu 23/11/13

Sajak-sajak Sofyan RH. Zaid

BEGUNDAL

aku sudah berpaling # tak akan menoleh walau ke samping
jalan lurus # menanjak terus
sampai dimana tempat # ikan mati dari hatiku melompat

di sana aku samadi # menghukum diri
merajammu dalam harap # melemparmu dari ratap

aku hanya seorang begundal # kau misal dari segala asal
kau tak akan sabar bersamamaku # seperti sabarnya batu

aku sudah berpaling # kau tak perlu menjadi hening

Bekasi, 2013

CASANOVA

kenanglah aku sebagai lelaki # separuh ruhku matahari
separuhnya lagi engkau # berdiri di ujung kemarau
kelak kau akan tahu # betapa lelakinya aku

aku pun akan mengenangmu # sebagai perempuan tangguh
harta rampasan perangku # melawan takdir yang pilu
setelah itu # kita akan saling menunduk malu
menempuh jalan sunyi # seraya bernyanyi
sampai hati menjadi bulat # serupa telur menetaskan burung ulat
sayapnya mengepak # terbang menjilat langit sajak

Bekasi, 2013

GAHARU

aroma gaharu # mengingatkan aku pada ibu
menjelang malam # hari tenggelam dalam kelam

ibu yang dimana # aku yang disana
dalam aroma gaharu itu # aku menjumpaimu dengan rindu

Bekasi, 2013

MATA HARAP

barangkali aku terlalu dalam jatuh cinta # sampai tak sanggup berkata
bahkan untuk sekedar menatap # aku mesti pejamkan mata harap

mata kaki # mata hati
mata hari # mata mati
beri aku keberanian # dalam ketakutan
berkata sepenggal saja # dari kejujuran rasa

mata kaki # mata hati
mata hari # mata mati
matamu terlampau pisau # menikamku galau

Bekasi, 2013


ZIARAH

dari kubur ke kubur # keakuanku hancur
bunga-bunga kenanga gugur # airmata deras melebur

aku ini siapa? # kau siapa?
siapa tanah # siapa sukma?

aku dihempaskan # lambai daun ke nisan
usiaku luka # darah tumpah
rintih menulis dosa # di kubur basah
baris demi baris # ingatanku giris
ruhku remuk berantakan # dimana-mana berserakan
ada yang tak terungkap # sebab tak sanggup mengucap

dari kubur ke kubur # badanku tanah kapur

madura, 2013

KOTA SERIBU PENYAIR # II

ke kotamu aku kembali datang # seperti bayang-bayang
kota seribu penyair # tiap sudutnya penuh syair
kotamu masih sama seperti dulu # desir angin mengabarkan rindu
hanya yang berbeda # engkau sudah tiada

aku mengunjungi alun-alun # suaramu masih mengalun
di ujung menara # bintang itu masih cahaya
kopi yang kuteguk # mengantarku pada khusuk
tahun yang lewat di pinggir # menawarkan air
aku berjalan sendiri # di antara sepi menari
memberi salam pada taman # pada lengang jalanan
padamu rinduku tumbuh # seperti pepohon tepian itu

barangkali karena tiadamu # kota ini mulai terasa semu
aku pun bergegas # melanjutkan langkah ke tapal batas

Jogjakarta, 2013

SERIBU BULAN RINDU

sepulangku dari pergi # kau terjaga dari hari
tatapanmu seperti tahu # isyarat rinduku
aku sudah berbadan kenangan # kau adalah bagian

rindu menyalakan seribu bulan # aku menggapai terang berkilaun
jari jemari mengucur cahaya # begitu juga kulit dan mata
rindu pada kekasih # rindu yang diberkahi

kembalilah kau tidur # aku masih menggali kubur
untukmu dan untukku # juga bagi wahyu
di luar angin mendesir # di dalam air mengalir

besok pagi-pagi # kita lihat matahari
terbit dari mana # dan tenggelam ke mana

Madura, 2013


KEBEBASAN ABADI

terkadang kita ke hutan # mencari kebebasan
kebebasan pandangan # kebebasan pikiran
betapa mahalnya kebebasan # orang menebusnya dengan kematian
ada yang pergi ke gua # bertapa puluhan tahun lamanya
mengembara ke mana-mana # tanpa apa-apa
tetapi masih bertanya # kebebasan itu dimana?

aku pun pernah mencari kebebasan pada dirimu #  namun yang kutemu hanya semu
barangkali hanya surga puncak tertinggi # kebebasan yang abadi

Madura, 2013

Bali Post, 23 Maret 2014

Sajak-sajak Sofyan RH. Zaid



KAWIN BATIN


ruhku menikahi ruhmu # di pusar jagat bertemu
maskawinku syahadat # serta selawat
wali malaikat, saksi Allah # muhammad mengucap sah

pengantin ruh menuju sungai # terseret arus ke arah pantai
di bawah janur bercumbu # butir pasir pecah seribu
sepasang ruh menaiki perahu # berlayar di lautan hu
ombak hu, ikan hu # seluruh penjuru hu
huku dan humu berpelukan # sepanjang gairah pelayaran
berenang Rumi dan Hafis #  gerimis perlahan turun tipis


di langit, bulan meleleh madu # bintang-bintang saling berpadu
Bakar dan Umar hadir # Usman dan Ali mencair

ruh kita satu # ruh kita tuju
lebur-menyatu # dari ruh yang hu
berloncatan ikan-ikan abad # mengawal ruh ke pulau ahad

saat perahu berlabuh # disambut hu begitu riuh
: hu hu hu hu # hu hu hu hu

2014



GLODOK - BEKASI
Bersama Indra Kusuma

kapan kiranya kita mengerti # batas hidup dan mati
bermula dari sekawanan ingin # seakan kita menjadi angin
antara glodok - bekasi # kita kerap berlari


di jalan kita derapkan impian # bersama panas dan hujan
asap dan deru mesin # menjadikan keringat semakin asin
kadang kita lelah berhenti # kemudian berlari lagi

kepala penuh kabel dan lampu # hati penuh baut dan paku
kita begitu beliung dengan angka # sampai lupa pada aksara
kehilangan dongeng di bawah bulan # kadang merdu suara azan

antara glodok - bekasi kita mengerti # batas hidup dan mati ada di hati
dan kita tak perlu dikenang # sebab kita tidak terbuang
kitalah angin bebas # terbang menembus batas

2013

(Bali Post, 23 Maret 2014)

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-