12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 08 Januar 2016)

ZIDANE
DALAM PERSPEKTIF KEPENYAIRAN
Oleh Sofyan RH. Zaid
“Tidak ada yang tahu Zidane itu malaikat atau iblis. Ia tersenyum seperti
Bunda Teresa dan menyeringai seperti pembunuh berantai.”

Jean-Louis Murat -Musikus

“Puisi yang bagus ditulis dengan darah, itu sebabnya penyair tidak pernah takut (untuk) terluka,” kata Naguib. Setelah kepergian Rafa, Zidane seperti dipaksa keadaan, –kepercayaan dan harapan- memahami dengan benar perkataan Naguib di atas untuk menjadi ‘penyair sepak bola’ yang baik. Seperti menulis puisi, Zidane harus mampu memadukan pikiran, ingatan dan perasaan Real Madrid -sebagaimana bagian dari tiga kebijakan puitis-nya Naowarat- agar kehadirannya bisa menciptakan: permainan yang puitis, senjata yang mendamaikan, dan memanusiakan pemain.
“Setelah makan malam ia selalu tinggal dan duduk di sekitar bar dengan secangkir kopi, siap untuk berbicara dengan pemain manapun. Ia bukan sosok yang lantang, namun ia selalu berbicara dengan semua orang, berbincang ringan dan menunjukkan rasa hormat.” Demikianlah Patrick Vieira menggambarkan Zidane semasa jadi pemain. Atau Franz Beckenbauer: “Zidane unik. Bola mengalir bersamanya. Ia lebih mirip penari ketimbang pemain sepakbola.” Dan juga “Ia berpikir dalam satu momen dan momen berikutnya ia melakukan sesuatu. Ia menciptakan ruang dari ketiadaan. Imajinasi dan tekniknya menakjubkan,” kenang Edgar Davids.
Dunia tahu Zidane sebagai legenda, mendapat pujian dari kawan dan lawannya, dari orang-orang sebelum dan sesudahnya. Misalnya Cesare Maldini: “Aku akan mengorbankan lima pemain untuk memiliki Zidane dalam kesebelasanku.” Dan Zlatan Ibrahimović; “Zidane berasal dari planet lain. Ketika Zidane masuk ke lapangan, sepuluh pemain lain tiba-tiba menjadi lebih baik.” Namun kebesaran namanya sebagai pemain yang hebat, tidak serta menjamin dirinya menjadi pelatih yang hebat. Menjadi pemain dan pelatih sepak bola adalah dua hal yang berbeda, sebagaimana bedanya penyair dengan kritikus. Dan Zidane harus belajar akan itu.
Keputusan Zidane –menyetujui- mengambil alih kepelatihan Real Madrid sampai akhir musim adalah sebuah pertaruhan. Ujian pertama karir kepelatihannya dimulai, sebagai titik awal mengenal dirinya sebagai pelatih; gagal atau sukses. Sebab menjadi pelatih sama seperti –menjadi- penyair: hal pertama yang harus dilakukan adalah ‘sadar diri’ dan ‘sadar karya’. Berapa nilaimu? Berapa nilai karyamu? Kepelatihan maupun kepenyairan sama-sama punya ‘jam tayang’ dan ‘jam terbang’.
Kebijakan besar yang diambil Perez sebagai Presiden Real Madrid dengan menunjuk Zidane, dicurigai terinspirasi dari kesuksesan Pep bersama Barcelona di masa lalu. Tidak ada yang salah dengan inspirasi, seperti halnya menulis puisi, inspirasi bisa didapat dari mana saja, dari angin yang bertiup, daun gugur, kabut asap, makelar undang-undang, calo hukum, saham, sampai kasus korupsi.
Namun dalam hemat saya, Zidane –untuk saat ini- tidak akan sesukses Pep melatih mantan klubnya; Barcelona. Ada perbedaan besar antara Barcelona dengan Real Madrid dalam hal karakter dan filosofi. Barca seperti paham ungkapan Bacon; tidak ada kemajuan yang instan, sementara Madrid lebih paham ucapan JK; lebih cepat lebih baik, meski kadang tidak tepat. Ibarat dua tipe kepenyairan menurut Wellek; Barcelona adalah ‘pengrajin puisi’ dan Real Madrid adalah ‘kesurupan puisi’, Dua tipe kepenyairan ini sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Zidane harus paham ini semua dari awal dan harus sadar jika dia memang harus pergi di akhir musim. Sebab dasar kesadaran itu sendiri adalah selalu pergi setiap yang datang, kata Rumi.
Meski Zidane tidak akan sesukses Pep untuk saat ini, namun bukan berarti Zidane akan gagal dalam karir kepelatihannya. Zidane punya potensi besar untuk melampaui kesuksesan Pep di masa depan, selama Zidane mau sabar menunggu waktu 5 sampai 10 tahun dan memiliki pengalaman menangani minimal 3 klub berbeda sebelum akhirnya kembali ke Real Madrid sebagai pelatih yang sesungguhnya. Ini yang dimaksud pengendapan –pengendepan diri dan karya- untuk mencapai sublimasi sebelum akhirnya tampil ke permukaan dalam proses kreatif kepenyairan. Dengan kata lain; lebih banyak ‘ke dalam’ daripada ‘ke luar’, ketika popularitas tidak pernah menjamin kualitas.
Terlepas dari itu semua saya tahu, Zidane orang yang punya ambisi sekaligus pengetahuan dan tehnik hebat dalam sepak bola dan hidupnya. Hal ini juga diakui oleh Aimé Jacquet: Zidane memiliki visi internal. Kontrolnya sangat tepat dan penuh perhitungan. Ia dapat membuat bola bergerak ke mana saja ia mau. Namun adalah dorongannya yang membawanya maju. Ia 100 persen sepakbola.
Apakah dia akan sukses atau gagal sebagai pelatih? Biarkan saja. Biarkan saya kembali pada kata-kata bebasnya: "Aku pernah menangis karena aku tak punya sepatu untuk bermain bola bersama teman-temanku, tetapi suatu hari aku melihat seorang laki-laki yang tidak punya kaki, dan aku menyadari betapa kayanya aku. Aku cukup beruntung datang dari daerah yang sulit. Ini mengajarkanku bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga hidup. Orang harus berjuang untuk dapat melalui hari. Aku sangat terinspirasi oleh ayahku yang mengajarkan bahwa seorang imigran harus bekerja dua kali lebih keras dari orang lain, dan tidak boleh menyerah.”
Bogor, 07 Januari 2016


KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 11 Desember 2015)

SURAT KEPADA ALFREDA, III Oleh Sofyan RH. Zaid Kampung ini masih semanis senyummu, Alfreda. Senyum yang memberiku ranum di luar musim, di tangkai kering. Tidak ada limbah di sini, polusi udara dan tumpukan sampah, seperti di kotaku. Hanya pucuk-pucuk daun bertaut, udara bertiup lembut, burung-burung berkicau saling bersahut; mengajarkan hidup. Kampung ini masih seanggun wajahmu, Alfreda. Wajah yang terus memburu sampai ke batas doa. Tidak ada ceropong pabrik, gedung bertingkat dan rumah kaca yang membakar sekitar, seperti di kotaku. Hanya perdu-perdu kecil di tengah hamparan sawah, pematangnya serupa gurat pada lehermu. Para petani berdiam setelah bercocok tanam. Begitu juga pantai dengan bentangan pasir putih, seperti lembaran kitab suci. Kampung ini masih setenang jiwamu, Alfreda. Jiwa yang mendekapku sepanjang waktu. Tidak ada banjir di sini, kabut asap dan luapan lumpur, seperti di kotaku. Hanya sungai-sungai mengalir menuju laut, gemerciknya serupa lagu. Pagi dan petang anak-anak melintas ke sekolah dan surau, dengan siul dan sorai. Kampung ini masih setulus cintamu, Alfreda. Cinta yang membuatku semakin berharga, melayang jauh, melintasi batas demi batas. Tidak ada pemerkosaan di sini, kemacetan dan perampokan, seperti di kotaku. Hanya ada senyum dan salam saat berjumpa, sambil menundukkan kepala dan dada. Kampung ini masih sepenuhnya engkau, Alfreda. Engkau yang bertahan dalam hatiku. Maukah kau tinggal bersamaku di kampung ini, sampai maut menemukan kita? 2015 Sumber: http://www.kabarbangsa.com/2015/11/surat-kepada-alfreda-iii.html

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 29 Agustus 2015)

SURAT KEPADA ALFREDA, II
Oleh: Sofyan RH. Zaid

maunya selalu memberantas kemiskinan
tapi ada yang selalu kuras uang rakyat
ada yang sok aksi buka mulut protas protes
tapi sayang mulutnya selalu beraroma alkohol

yang muda mabuk, yang tua korup
korup terus, mabuk terus
jayalah negeri ini, jayalah negeri ini
(merdeka!)

maunya selalu menegakkan keadilan
tapi masih saja ada sisa hukum rimba
ada yang coba-coba sadarkan penguasa
tapi sayang yang coba sadarkan
sadar aja nggak pernah

setiap hari mabuk
ngoceh soal politik
setiap hari korup
ngoceh soal krisis ekonomi

perut kekenyangan bahas soal kelaparan
kapitalis sejati malah ngomongin soal keadilan sosial
selalu monopoli
ngoceh soal pemerataan
setiap hari tucau
ngoceh soal kebobrokan

Lagu Distorsi - Ahmad Band ini mengusir sepi dari kamarku. Di kamar yang sama, seperti malam-malam sebelumnya. Entah malam apa ini, aku lupa. Mungkin benar: dalam rindu, semua hari adalah nama kekasih.

Alfreda, aku baru saja habis membaca (balasan) suratmu. itu sebabnya aku mengingatmu begitu kuat. Ingin rasanya kembali menulis namamu di buku pelajaran, tembok sekolah, surau, dan rumah, serta halaman sehabis hujan. Di luar gerimis terdengar ritmis, begitu manis. Aku meraih beberapa lembar kertas dan pen warna biru kesukaanmu. Aku kembali menulis surat untukmu, walau mungkin tak seperti surat Jibran kepada Mary, atau surat cinta tertua di dunia yang ditemukan di lembah Niffer (2200 SM). Suratku masih sama seperti sebelumnya, cerita-cerita untuk diabaikan.

Alfreda, apa kabar? Aku ucapkan salam kepada malaikat yang menjagamu. Semoga kamu baik-baik saja seperti diriku di kota ini, seperti dalam doa orang-orang tercinta. Akhir-akhir ini aku suka mengikuti berita kasus korupsi. Kamu tahu, Alfreda? Mengikuti berita tersebut sebenarnya tidak beda jauh dengan film-film Korea kesukaanmu, sama-sama drama. Bedanya hanya terletak di ending, kasus korupsi endingnya selalu tidak jelas, antara bahagia atau sedih. Seperti berakhir di laut, lalu lupa. Sengaja membayar agar dilupakan, namun jangan khawatir, tidak ada yang bisa membayarku agar melupakanmu.

Alfreda, Indonesia negara besar. Kekayaan alamnya melimpah dan tambangnya tidak akan habis sampai hari kiamat. Pakar akuntansi sekalipun tidak akan sanggup menghitungnya, namun rakyatnya masih saja jauh panggang dari ayam. Kemiskinan dan kebodohan di mana-mana. Lantas ke mana kekayaan alam Indonesia itu? Rakyat sebagai pemilik sah republik ini hanya memiliki cerita dan fantasi akan kemakmuran sebagai hutang kemerdekaan, tanpa pernah tahu kapan akan dibayar lunas atau kredit, seperti orang-orang kampungmu yang membayar hutang pada rentenir berkedok agama itu. Semua orang tahu -dari pedagang mie ayam sampai profesor-, ini semua terjadi sebab: korupsi.

Alfreda, aku ingat Anna Lind, -Menteri Luar Negeri Swedia yang ditusuk mati saat sedang berbelanja tahun 2003 itu- bahwa sejak dahulu, dalam masyarakat yang demokratis, korupsi dan penindasan tetap saja merupakan ancaman yang besar. Banyak orang bilang ingin mewakili rakyat di Senayan, nyatanya hanya memperkaya diri sendiri, kelompok dan keluarganya. Banyak orang bilang ingin jadi PNS agar bisa memperbaiki sistem dari dalam, nyatanya mereka juga merongrong kekayaan negara dan jarang ada di kantor. Banyak orang bilang mau jadi aktivis untuk mendampingi dan menyelamatkan rakyat, nyatanya mereka juga mata duitan.

Di negara ini, korupsi sudah menjadi budaya ‘salah kapra’. Mereka yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, harus mengeluarkan uang banyak, nama besar saja tidak cukup. Mereka yang mau jadi PNS, harus menyuap, pendidikan saja tidak cukup. Mereka yang mau aktivis, harus mencari proyek-proyek pragmatis untuk menghidupkan idealismenya. Sehingga korupsi kemudian tidak bisa lagi ditolak. Korupsi bukan hanya berdampak sistemik, tapi prosesnya juga sudah sangat sistematis. Kalau ada koruptor yang tertangkap itu pasti karena ada pihak yang tidak dapat bagian, lalu berkhianat. Lebih tepatnya tidak beruntung, atau Tuhan mulai bosan, kata Ebiet.

Alfreda, kamu boleh tidak percaya, bagaimana sekawanan wakil rakyat menjual undang-undang seperti nelayan menjual udang-udang. Bagaimana para PNS membuat program-program fiktif untuk menghabiskan anggaran. Bagaimana aktivis-aktivis itu menjadikan rakyat sebagai alat jualan dan batu loncatan, untuk kepentingan perutnya sendiri. Sementara hukum semakin sulit ditegakkan meski langit runtuh, karena para penegaknya juga mendapat bagian. Bagian itu adalah kebaikan, kebaikan itu lebih tajam dari pedang, menusuk sambil memeluk, membunuhnya perlahan. Rakyat tidak tahu lagi, kepada siapa akan percaya dan menemukan keadilan.

Negara ini sedang menjadi telur di ujung tanduk, jika Olusegun Obasanjo - Jenderal Nigeria- itu benar, korupsi merupakan sumber kehancuran terbesar masyarakat saat ini. Sebab Karl Kraus -Jurnalis Austria- itu yakin, korupsi lebih buruk dari prostitusi. Prostitusi membahayakan moral individu, tetapi korupsi akan membahayakan moral seluruh negeri. Bila koruptor melakukan korupsi secara berjamaah dan sangat sistematis, itu artinya penjajah negara ini bukan lagi dari bangsa lain, tapi bangsa sendiri. Lambat laun negara ini akan bangkrut dengan banyaknya masalah yang ditimbulkan korupsi. Dan ketika itu terjadi, maka hanya ada satu cara mengatasinya; gadaikan. Mengatasi masalah tanpa masalah.

Alfreda, bicara korupsi di negara ini hanya akan mempercepat tua. Jauh hari Plato sudah teriak, keadilan dalam kehidupan dan perilaku suatu negara hanya mungkin jika hal tersebut tertanam dalam hati dan jiwa warga negaranya. Bahkan Bertrand de Speville -tokoh anti korupsi itu- bilang, butuh 25 tahun paling tidak untuk memerangi korupsi dan mengubah sikap masyarakat agar tidak lagi menerima tindakan korupsi. Aku hanya bisa membayangkan, betapa makmur dan sejahtera bangsa ini tanpa korupsi. Atau barangkali seperti ilmu matematika; mereka tidak ahli dalam penambahan dan pengkalian, ahlinya hanya dalam pengurangan dan pembagian. Mereka hanya tahu jumlah akhir, tanpa perlu tahu rumus yang benar. Itu kenapa sesekali kita perlu meniru Anna Hazare, melawan korupsi dengan cara mogok makan sampai mati, sampai pemerintah dan parlemen India membuat UU Antikorupsi yang keras dalam pelaksanaannya. Dan Hazare percaya, untuk melawan korupsi kita harus melibatkan seluruh pihak, setidaknya dimulai dari diri sendiri. Sebab dunia memberi kecukupan untuk kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk keserakahan, kata Gandhi.

Di akhir surat ini, Alfreda. Aku ingin berdoa meski itu selemah-lemahnya iman: Semoga negara ini terus maju dan mampu membayar hutang-hutang kemerdekaan kepada seluruh rakyat dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Namun jika korupsi itu niscaya, tidak bisa dilawan dengan kejujuran semata sebab koruptor semakin kuat dan sistematis, maka kirimkanlah kepada kami Raden Mas Syahid -Sunan Kalijaga- baru yang banyak, tanpa perlu ada Sunan Bonang.

Alfreda, ketika kau mengucap amin atas doaku, maka surat ini pun berakhir. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah ada korupsi di antara kita.

Bekasi, 26 Agustus 2015

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat 14 Agustus 2015)

SURAT KEPADA ALFREDA
Oleh Sofyan RH. Zaid

Alfreda, aku menulis surat ini saat lampu padam. Tepat di hari ulang tahunmu. Ditemani sepotong lilin yang rela membakar dirinya demi cahaya. Sesekali laron mendekat dan terbakar. Aku melihat bulan beku di antara kelip bintang. Angin yang nakal menyusupkan dingin bersama wajahmu. Lewat surat ini, aku ingin mengenangmu. Mengenang pagi, pertama kita kehilangan hati. Ke wangi bunga, tetes embun dan terbit matahari, kita mencari. Ternyata di tubuhku hatimu, di tubuhmu hatiku. Kita malu-malu saling meminta, kemudian membiarkan tertukar. Aku menjadi kau, kau menjadi aku. Kita mulai berjalan bergandeng tangan perasaan. Derap jadi irama, jejaknya menjadi tanda. Perjalanan kita telah cukup jauh untuk kembali. Melewati batas demi batas. Kaki luka, kerikil dan duri berganti menusukkan diri. Dan kita mengerti; ketulusan selalu punya bahasa sendiri.

Alfreda, aku menulis surat ini bukan berarti ingin kembali ke masa lalu, masa di mana kita pernah berjumpa dan jatuh cinta. Aku hanya mengenang itu semua. Membuka ingatan, album  lama bersamamu. Segala bentuk gelisah dan keterasingan dapat sejenak aku lupakan. Aku rindu menulis surat, dan aku selalu bahagia tiap kali menulisnya untukmu, apalagi di hari ulang tahunmu. Lewat surat ini, aku ingin mengenangmu. Mengenang rasa, sepiku penuh baris gigimu. Malammu penuh tebal alisku. Kita mulai kenal rindu, kerap menghitung waktu. Kadang menangis dan tersenyum sendiri. Menjadi bagian dari kegilaan yang sadar: Orang yang bisa membuat kita bahagia adalah orang yang juga bisa membuat kita berdukaBegitulah tanda kedekatan jiwa. Kita seolah lebih tua dari usia. Menjadi begitu bijak, begitu pujangga. Surat menjadi jembatan antara hati kita. Seperti dua kampung yang terhubung. Dari sanalah jejak kepenyairanku bermula.

Alfreda, apa kabarmu di Pesantren? Semoga kau baik-baik saja seperti dalam doaku setiap waktu. Sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa, sejak berpisah di alun-alun kota malam itu. Aku sendiri baik-baik saja di perantauan. Hanya hidup di kota ini seperti tinggal dekat matahari. Panas menyengat. Segala sesuatu terjadi tanpa pernah bisa dihindari. Usia habis di jalan ditelan kemacetan. Diri terasing dari kehidupan dan perlahan menjadi boneka yang berpikir. Itulah kenapa aku kerap lupa kepadamu. Ingatan penuh asap dan debu, serta sejumlah rencana yang tak nyata. Mimpi-mimpi terdampar di batas benda. Kepulangan-kepulangan yang tertunda. Tapi percayalah, cinta kepadamu tetap ada. Itu yang membuatku bertahan di sini, sampai malam ini, meski rindu kerap memaksaku untuk bertemu.

Alfreda, kota tempat aku merantau, telah menjadi hutan beton. Sepanjang hari deru gemuruh. Orang-orang kehilangan burung dan napas pohon. Ceropong-ceropong terus melolong seperti serigala di siang hari. Tanah-tanah kosong telah berganti gedung-gedung. Rumah-rumah penduduk digusur menjadi jalan. Hutan-hutan kecil di tepian untuk meredam gairah hujan, telah menjadi pabrik-pabrik besar. Anak-anak kehilangan taman tempat mengejar kupu-kupu atau memetik bunga. Kehilangan tanah lapang tempat bermain layang-layang atau duduk bersama mentatap senja. Kehilangan bening sungai untuk mandi dan berenang. Katanya ini kota maju, tapi banyak pemulung hidup beranak dalam sampah. Gelandangan menghuni jembatan, peminta-minta hampir memenuhi sudut-sudut kota. Kejahatan terjadi di mana-mana. Dan para pribumi telah menjadi perantau di kotanya sendiri. Kota yang diwariskan leluhurnya hanya tersisa dalam kenangan.

Alfreda, apa kabar orang tuamu? Kadang aku masih suka tersenyum sendiri kemudian menitikkan air mata tanpa sadar, jika ingat peristiwa itu. Peristiwa yang ditulis luka menjadi sejarah dalam hidupku. Dengan penuh keyakinan dan keberanian aku datang sendiri melamarmu, tapi sayang ayahmu menolak keras niat yang aku sampaikan. Kau juga pasti ingat bagaimana ucapan ayahmu malam itu; “Kamu hanya seorang penyair. Kamu sendiri tahu, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Anakku tidak akan pernah menikah denganmu.” Mendengar ucapannya aku kehilangan keseimbangan. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Seakan laut Lombang dan Slopeng menyatukan debur dalam dadaku. Seolah bulan dan bintang berjatuhan menimpa kepalaku. Perlahan aku beranjak pergi meninggalkan rumahmu. Dan aku tahu, di ujung halaman kau menangis. Begitu juga aku, sepanjang jalan menuju rumah. Aku tidak marah pada ayahmu, hanya aku malu pada diriku sendiri. Mencintaimu aku seperti tertidur panjang dengan mimpi yang indah, tapi malam itu tiba-tiba terjaga dan ketakutan. Airmata membasahi jalan. Kesunyian menuntunku pada kesadaran terdalam.

Alfreda, sudahlah, yang terjadi biar terjadi sebagai bagian dari kedewasaan. Apalagi ayahmu  benar, aku hanya seorang penyair, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Ya, aku hanya seorang penyair pinggiran, bahkan sampai saat ini. Selain puisi dan cinta, tidak ada yang bisa diharap dariku. Kau tahu, sebagai penyair aku tidak dekat dengan penguasa atau pengusaha. Aku hanya terus menulis puisi dan bertahan sebagai penyair, meski beberapa rubrik koran yang memuat puisi sudah lama tiada, sedang  yang masih ada belum memuat puisiku. Sebab puisiku katanya; bukan puisi kritik sosial.

Puisiku tidak berbau pemerkosaan yang kerap terjadi pada anak atau ibu sendiri, bahkan dalam angkutan umum. Puisiku tidak berbau pencurian motor. Puisiku tidak berbau koruptor yang terus merongrong uang negara. Puisiku tidak berbau teroris yang memusuhi negara lain dengan mengebom negara sendiri. Puisiku tidak berbau kekerasan atas nama agama. Puisiku tidak berbau fundamentalisme buta yang suka mengatakan orang lain kafir atau sesat, menolak menghargai perbedaan dan mencari persamaan untuk perdamaian. Puisiku tidak berbau mafia hukum yang bisa memasukkan orang ke penjara seenaknya. Puisiku tidak berbau politikus rakus yang mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan sendiri. Puisiku tidak berbau pemimpin yang lemah dan penakut. Puisiku tidak berbau pesawat jatuh di gunung atau laut. Puisiku tidak berbau Lumpur Lapindo yang terus memancar deras dan meluas. Puisiku tidak berbau lokalisasi yang dilindungi aparat. Puisiku tidak berbau penebangan liar hutan. Puisiku tidak berbau hutang negara.

Sementara puisiku hanya berbau cinta dan rindu kepadamu. Hanya sesekali berbau Tuhan, perihal jalan, harapan dan ketakutan akan keabadian. Dan aku berlindung kepadaNya dariberdiri mengaku sebagai penyairtapi tak satu pun puisi yang ditulis.

Alfreda, akhir bulan ini, kau libur pesantren bukan? jika tak ada aral, aku pun akan pulang ke kampung halaman. Aku sudah suntuk dan bosan di kota ini. Pergi pagi pulang sore, menyaingi matahari. Seperti dahulu, kita akan ke pantai; menikmati senja, pasir putih, cemara udang, barisan nyiur atau para nelayan yang turun dari perahu disambut anak-istri. Kita akan naik gunung; mencari buah jambu, anak burung dan menatap hamparan sawah dari ketinggian seperti halaman kitab suci.

Alfreda, demikian surat ini aku tulis,  tepat di hari ulang tahunmu. Dan  lampu masih saja padam. Sepotong lilin sudah hampir habis membakar dirinya demi cahaya, terus meleleh dalam nyala, seperti cintaku padamu.  

Selamat ulang tahun, Alfreda.
: ciumku dari jauh, dari sebuah kota bernama rindu.

Bekasi, 07 Juni 2014

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 18 September 2015)

PUISI, CINTA DAN WANITA
(Pengantar buku Mahar Untuk Istriku karya Djamaluddin Al-athar)
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Berpuisi adalah hak setiap orang.”
Hasan Aspahani


Zaman romantik -sebagai bentuk perlawanan terhadap zaman rasionalisme- boleh saja berakhir pada abad ke-18, namun romantisme itu sendiri akan terus hidup dan mengalir dari zaman-zaman. Sekuat apapun materialisme menyerang, romantisme sebagai sesuatu yang abstrak sekaligus nyata akan tetap ada dan telah menjadi salah satu nilai universal yang diterima di seluruh dunia. Salah satu laut yang paling setia menampungnya adalah sastra, khususnya puisi.

Tidak ada yang tahu kapan pastinya puisi cinta -untuk seorang wanita- pertama kali ditulis dan ditemukan, namun Yapi dalam 123 Ayat Tentang Seni (2012) menuliskan, bahwa 1.000 tahun sebelum Masehi, di sekitar Palestina untuk pertama kalinya dalam sejarah ditemukan sebuah puisi tentang wanita bernama Deborah atau disebut Aisma dalam bahasa Ibrani. Kemudian diterjemahkan menjadi Canticum Canticorum dalam bahasa Latin, Song of Songsdalam bahasa Inggris, Het Hooglied dalam bahasa Belanda, dan Syiru’l Asyar dalam –serapan- bahasa Arab. Puisi ini -menurut para peneliti- ditulis oleh Raja Solomon (atau Nabi Sulaiman AS), sebagaimana tulisan lainnya berupa surat kepada Balqis yang diabadikan dalam Al-Quran. Berikut petikannya:

kiranya ia mencium aku dengan kecupan
Karena cintanya lebih dari pada anggur

Selain itu, ada juga penyair penting Romawi, Gaius Valerius Catullus (84-54 SM) kerapkali menulis dan membacakan puisi-puisi persembahannya untuk seorang wanita yang dia sebut Lesbia, misalnya:
Tidak mungkin ada cinta lagi, Lesbia
Yang melebihi besar cintaku padamu
Tidak mungkin juga ada tali yang mengikat hati
Yang melebihi kuatnya kesetiaanku padamu

Puisi, cinta dan wanita seperti tiga serangkai yang tidak akan terberai sampai hari kiamat. Andai dihitung, puisi cinta -di dunia ini- tentu lebih banyak dari puisi (kritik) sosial, dan puisi cinta untuk wanita, tentu lebih banyak dari puisi cinta untuk Tuhan dan lainnya. Alasan yang paling rasional barangkali, karena tiga hal tersebut sama-sama mempunyai keindahan (estetika) sebagai tali perekatnya.

Plato, Agustine dan Aquinas sepakat, bahwa keindahan itu ada dalam kebenaran. Sehingga –pengalaman- keindahan tidak bergantung pada senang atau tidaknya seseorang, melainkan terletak pada pemahaman intelektualnya terhadap sesuatu yang artistik. Akan tetapi mereka boleh salah memandang keindahan pada puisi, cinta dan wanita berdasarkan pikirannya semata.

Lain lagi dengan Hopkins yang melihat keindahan secara konseptual dan theosofis ke dalam dua bagian; instress, yakni pengaruh yang nyata dari ‘tangan’ Tuhan terhadap cipta kreatifnya seperti pemandangan gunung, laut dan sebagainya. Juga isncape, yakni pemahaman dan kekuatan melihat segala sesuatu dengan hati dan pikiran sebagai puncak realitas dalam pola, irama, dan melodi ciptaan berdasarkan kebenaran Tuhan. Teori Hopkins -perihal inscape- ini seperti membuat dua persepsi tentang keindahan, yaitu keindahan pada proses penciptaannya dan keindahan pada hasil karyanya. Bila diibaratkan puisi, bagaimana penyair merasakan keindahan saat –proses- menulisnya, dan bagaimana pembaca merasakan keindahan –ketika- membaca hasilnya.

Puisi, cinta dan wanita akan tetap bersama selamanya, sebab penyair akan terus menjaga ketiganya dengan baik dan penuh keindahan. Begitu juga dengan Djamaluddin Al-athar (Djamal) dengan bukunya Mahar Untuk Istriku ini. Tentu sebuah mahar yang indah untuk sebuah ‘akad pernikahan’. Puisi-puisi dalam buku ini –seolah- merupakan anasir-anasir kesan, juga pesan lirih tentang ‘pernikahannya’ sendiri yang diceritakan kepada kawan-kawannya tanpa beban, atau juga serupa ajakan samar agar segera menikah dan mengalami keindahan yang sama.
Selain itu, Djamal juga secara terbuka mengungkap perasaannya –baik suka atau duka- kepada wanita yang menjadi ‘istrinya’ dalam buku ini. Misalnya pada puisi bertajuk Aku Mencintaimu:
Aku mencintaimu
Jumlahnya tak terhitung
Jaraknya tak terjangkau
Kata-katanya bagaikan kalung mutiara
Benangnya kuat bagaikan Baja
            Aku mencintaimu
            Qois dan Laila sudah bercerita
            Apa arti cinta tanpa sebuah Harta
            Jalaluddin Rumi dan Kahlil Ghibran
            Menata kata-kata, ungkapan Cinta
            Pada dzat untuk saling menyapa
            Ibnu ‘Arabi berjalan di malam Hari
            Terus menatap langit sambil menjerit-jerit
            Rabi’ah konsep keberaniannya menolak cinta sesama
            Datang pada sebuah Alam yang bernama Cinta
Aku Mencintaimu
Tinta-tintaku semakin habis
Merangkai aksara-aksara bernada mesra
Kertas-kertasku semakin kusam
Melipat-lipat gambarmu dalam remasan kerinduan
            Aku mencintaimu
            Tak henti-henti aku bertanya pada malam
            “Masih setiakah dalam tidurmu”?
            Tak henti-henti memprotes siang
            Hujan angin, panas dingin semakin membara
            Aku mencintaimu...Aku Mencintaimu
            Ada danau kasih sayang
            Dialah pemilik sah Telaga Al-kausar

Apapun bentuk dan gaya ucapnya, puisi-puisi Djamal –seakan- ditulis dengan hati nurani sepenuh perasaan cinta, sehingga terasa getarannya, sebagaimana kata Zawawi, kalau puisi itu adalah kejujuran nurani dan estetik. Dalam pandangan yang sementara, Djamal menggarap puisi-puisinya dalam buku ini secara terbuka: jujur, lugas, dan nyaris tanpa hijab majasi. Namun salah satu hal yang mengagumkan adalah bagaimana ia memperjuangkan rima pada hampir seluruh puisinya. Sesuatu yang layak dihargai sebagai sebuah proses kreatif yang ketat, sebab memperjuangkan rima pada puisi, bukan perkara yang mudah. Maka wajar, jika puisi-puisinya kadang agak ‘kaku’ ketika dibaca.

Demikianlah puisi, kuat di satu sisi, kadang lemah di sisi lain. Namun yang terpenting dalam menulis puisi, karena mendengar suara dari hati, kata Adri. Dan Djamal melakukan itu semua dengan sadar dan baik. Secara utuh, buku ini seperti mengajak kita, bahwa mahar dalam setiap pernikahan harusnya adalah buku kumpulan puisi, atau paling tidak salah satu bagiannya, sehingga puisi, cinta dan wanita senantiasa bersama, baik dalam suka ataupun duka, tanpa saling melukai.
Selamat menempuh buku baru. Semoga bahagia.

Bekasi, 9 September 2015

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 23 Oktober 2015)

MELIRIK TASAWUF
Oleh Sofyan RH. Zaid
“Tasawuf tidak tersusun dari praktik dan ilmu, tetapi merupakan akhlak. 
Siapapunyang melebihimu dalam akhlak, berarti melebihimu dalam tasawuf.”

Annemarie Schimmel
“Tahun-tahun belakangan ini sudah banyak diterbitkan buku-buku mengenai tasawuf dan kehidupan rohani dalam Islam. Masing-masing buku itu hanya menyentuh suatu sisi saja, sebab gejala yang biasanya disebut tasawuf begitu luas dan wujudnya begitu besar sehingga tiada seorangpun yang berani mencoba menggambarkannya secara utuh. Bagaikan orang-orang buta dalam kisah Rumi yang terkenal itu, ketika mereka menyentuh gajah, masing-masing menggambarkan sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuhnya: bagi si buta ini, gajah bentuknya seperti mahkota, bagi si buta itu seperti kipas, bagi yang lain seperti pipa air atau seperti tiang. Namun tidak ada seorangpun yang bisa membayangkan gajah seutuhnya itu seperti apa,” kata Friz Meir.
Bagi Dzun Nun, tasawuf berarti kesetiaan pada janji, tidak lelah mencari, dan tidak kecewa karena kehilangan. Kaum sufi adalah orang-orang yang lebih suka kepada Tuhan dari pada apapun. Dan semua itu kata Al-Junaid, tidak (tercapai) dengan banyak doa, zikir dan puasa semata, tetapi merupakan keamanan dan kedermawanan hati; tak memiliki apapun dan tak dimiliki oleh apapun. Tasawuf adalah kebebasan.
Namun meski demikian, Ibnu Taimiyah bilang, tasawuf merupakan hasil ijtihad dalam menjalankan agama dengan sebenar-benarnya, bahkan merupakan hasil ijtihad yang tulus untuk menunjukkan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya, meski tidak menutup kemungkinan adanya unsur-unsur bi-dah di dalam tasawuf dan juga bukan satu-satunya cara.
Lebih jauh, Harun menyinggung perihal unsur luar (islam) yang mempengaruhi tasawuf; misalnya pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara yang dilakukan para rahib, seperti halnya zuhud. Selanjutnya, pengaruh filsafat mistik Pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai ‘orang asing’. Badan merupakan penjara bagi roh, kesenangan dan kebebasan roh adalah di alam samawi. Untuk sampai pada tingkat itu, manusia harus membersihkan rohnya dengan meninggalkan yang material.
Selain itu, Harun juga menyebutkan tasawuf dipengaruhi filsafat amanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh jadi kotor, dan untuk dapat kembali ke asalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah dengan mendekati Tuhan sedekat-dekatnya. Serta pengaruh ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus bisa meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham Fana yang terdapat dalam tasawuf hampir serupa dengan faham Nirwana. Dan yang terakhir adalah ajaran Hindu yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.
Sampai hari ini, tasawuf berkembang secara pesat, melalui buku-buku, majelis-majelis, dan sebagainya sebagai salah satu mozaik Islam ataupun satu disiplin keilmuan. Bersamaan dengan itu juga, tasawuf tetap tidak pernah lepas dari perdebatan dan kritikan. Melirik fenomena ini, menarik ketika Nasr menulis dalam The Garden Of Truth; Untuk mencari jalan menuju Taman Kebenaran dan mengikutinya hingga ujung, orang tidak harus mengusai berbagai pengetahuan tentang tarekat sufi dan tulisan-tulisan makrifat. Orang bisa menjadi seorang suci-sufi di pegunungan Pamir, tanpa pernah mendengar tentang tarekat Tijaniyah di Senegal. Jadi, kapan, di mana dan dalam keadaan apapun saat kamu ingat lalu rindu pada Allah, itulah tasawuf.
Bogor, 23 Oktober 2015

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 11 September 2015)

MANUSIA PENCIPTA
(Epilog Buku 50.000 Ma’(w)ar: Antomena Sajak #10Huruf karya Shiny Ane El-Poesya)
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Pembaca adalah raja di depan sebuah karya, tak satu pun yang dapat memaksanya.
Begitupun sebaliknya, pengarang adalah raja saat ia menuliskan karyanya,
tak seorang pun yang dapat menindas ide dari imajinasinya.”

Radhar Panca Dahana

Dalam perdebatan klasik –bahkan mungkin klise-, Plato dalam The Republic menyebut tukang kayu yang membuat kursi, lebih bermanfaat dibanding penyair yang menulis puisi tentang kursi. Sebab baginya sastra hanya tiruan alam (mimesis) dan penyair adalah plagiat alam semesta. Sementara Aristoteles dalam The Poetics menyangkal pandangan itu dengan mengatakan; alam yang diciptakan Tuhan hanyalah titik tolak –bagi penyair- untuk menciptakan karyanya sebagai ‘alam baru’ yang memiliki struktur realitas sendiri. Jadi, penyair bukan ‘peniru’, melainkan ‘pencipta’.

Kemudian Horatius –sekaligus melengkapi pandangan Aristoteles- melalui De Arte Poeticamenyebutkan; struktur realitas karya sastra –paling tidak- dapat memberikan subtansi moral, keindahan yang bermanfaat dan menyenangkan. Di samping itu, Longius dalam On The Sublime juga memberikan tiga struktur utama bagi penciptaan karya sastra, yakni: falsafah dan persoalan penting yang diangkat, gaya bahasa serta emosi yang terpelihara, dan tahan terhadap zaman. Hal ini menunjukkan bahwa penyair selalu dipaksa menjadi ‘manusia pencipta’ dan mempunyai kepekaan sosial yang tinggi serta wawasan kemanusian yang mendalam. Wajar apabila penyair kemudian memiliki perasaan dan pemikiran yang lebih ‘jauh’ dibanding orang-orang pada umumnya.

Namun pandangan di atas, dianggap terlalu pragmatis; terlalu berharap banyak pada penyair dan karyanya sebagai bentuk ekspresi bebas manusia, kata Sartre. Karya sastra harusnya tetap dibaca sebagai karya sastra, bukan teks ceramah, buku panduan, ajaran moral atau filsafat, meski karya sastra tidak menutup kemungkinan memiliki unsur tersebut -sebagai nilai-. Hal ini juga sejalan dengan keyakinan Engels, bahwa karya sastra harus dihargai telebih dulu sebagai karya seni, atau puisi sebagai karya sastra, kemudian baru dihargai sebagai cerminan eksistensi masyarakat, pemikiran dan sebagainya. Begitu juga dengan buku 50.000 Ma’(w)ar: Antomena Sajak #10Huruf karya Shiny Ane El-Poesya ini.

Melalui pengantar bukunya, Shiny secara terbuka mengatakan:
“Sajak #10huruf, apabila kita hendak “letakkan” dalam mangkuk sejarah kepenyairan kita yang seperti saat ini, adalah merupakan satu dukungan kreatif, serta upaya “menyanggupi” fenomena “kembalinya puisi struktur” yang—menurut penulis—sedang berusaha melakukan “gerakan” keluar dari situasi tak “terkontrolnya” puisi gaya-bebas dan cenderung bergeser ke arah membanal itu; Bahkan hingga mengenai arah proses produksi karya sastra itu sendiri: Fenomena “asal-unggah” khas masyarakat virtual, kecenderungan merebaknya penerbitan-penerbitan atas nama pribadi, dan juga “matinya” lembaga kritik, sepi dan “mandul”nya kritik yang kreatif di tengah-tengah terjadinya proses desakralisasi penulisan sejarah (kebaruan) kesusastraan Indonesia Modern, memperparah suasana “bising” ini.”

Terlepas dari apapun tentang buku ini, kita harus sepakat dengan Walter dalam The Renaissance: Studies in Art and Poetry, bahwa puisi sebagai karya sastra datang kepada kita dan menganjurkan; menerima suatu kualitas tertinggi yang diberikan pada waktu-waktu yang telah dilalui, setelah itu biarlah ia menunjukkan dirinya kepada kita pada masa-masa yang akan datang. Akan tetapi paling tidak nilai sebuah karya -bagi Joyce dalam A Portrait of The Artist as aYoung Man- secara tehnis, kualitas keindahannya dapat dirasakan dengan baik apabila memiliki tiga karakter penciptaan, yaitu:

Pertama; Integritas; kesatuan yang padu dari setiap unsur yang ada di dalamnya. Masing-masing harus berfungsi membangun wujudnya yang tunggal. Bukan sekadar unsur yang berkumpul tanpa hubungan. Kedua: Harmoni; keserasian yang proporsional, bertalian secara tepat dan kuat demi satu bentuk ideal, meskipun bagian-bagiannya terdiri dari unsur yang ‘sedang berkonflik’ sebab adanya sifat yang bertentangan, namun harus tetap bisa diseimbangkan dan diselaraskan sehingga menjadi bentuk yang stabil. Ketiga: Individuasi;keunikan tersendiri yang berarti hasil karya seni tidak bisa ditukar dengan hasil karya seni yang lainnya, meski tidak dapat dihindari hasil karya seni selalu mempunya anasir persamaan yang bersifat universal, namun tidak menghilangkan karakteristik individualnya. 

Buku ini layak dibaca dan diperbincangkan sebagai sebuah buku puisi -yang kata Dorothea- menawarkan nilai, atau lontaran gagasan dan ide, di mana pencipta bukan penafsir tunggal dan pembaca bebas melakukan penafsiran sendiri. Juga sebuah buku yang berteriak lantang bahwa penyair adalah makhluk gelisah. Itu sebabnya dia tidak pernah merasa nyaman berada di zona aman. Dia terus mencari hal-hal baru yang mungkin –dan tidak mungkin- dalam proses kreatifnya, sampai pada akhirnya dia berhasil menemukan ‘puncak di kedalaman’.

Sekali lagi, penyair adalah pencipta, tapi bukan Tuhan. Sebab sekeras apapun penyair mencipta, tidak akan pernah bisa sama, apalagi melampauiNya. Sebagai ‘manusia pencipta’, penyair dan karyanya kadang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh masyarakat. Menyebabkan ia ‘dikucilkan’ dan dianggap sebagai orang gila. Namun jangan khawatir, jika karya yang diciptakannya punya kualitas ‘life time’, pada akhirnya masyarakat akan mengakui kalau penyair adalah orang yang paling waras dan diterima sebagai pembaharu. Sekalipun pengakuan itu muncul setelah penyairnya tiada, kata Teeuw.

Bogor, 07 September 2015

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 02 Oktober 2015)

RASA-RASA PUISI Oleh Sofyan RH. Zaid
“Puisi itu seperti memijat mata, kalau sudah lihat puisi, saya bisa tidur.”
Umbu Landu Paranggi
Barangkali kita sering meneguk minuman instan dalam kemasan gelas atau botol plastik, seperti Ale-ale, Fruitang, Vitazon, Mizon dan sebagainya. Produk minuman seperti ini seolah memang diciptakan untuk menjawab kebutuhan bagi zaman yang semakin tergesa dan serba mudah. Dalam istilah Marshall disebut ‘kreatif kapitalis’, sebuah keadaan yang perlahan diciptakan, dan kita digiring pada keterpaksaan mengikutinya dengan sadar ataupun tidak. Ibarat sebuah penyakit, virus dan obatnya diciptakan oleh orang yang sama untuk kepentingan tertentu. Padahal kita tahu, minuman instan tersebut tidak baik untuk kesehatan. Bisa menjadi titik awal timbulnya penyakit. Merupakan hasil rekayasa kimia dan teknologi. Campuran zat pewarna, pemanis buatan dan rasa sintetis yang melahirkan aroma Jeruk, Anggur, dan sebagainya. Dan kita kadang meneguknya seperti meneguk jus buah asli. Sementara itu hanya rasa yang palsu. rasa yang seolah, rasa yang seperti. Barangkali kita juga memetik buah di kebun atau membelinya di pasar, kemudian kita olah menjadi jus. Saat itulah kita sedang meneguk jus buah yang sebenarnya. Sari buah yang memberi manfaat dengan beragam vitamin yang dikandung. Tentu harganya tidak semurah minuman instan, begitu juga proses mendapatkannya. Nah, fenomena perpusian kita belakangan ini, seperti dua jenis minuman di atas. Banyak ‘puisi minuman instan’, puisi yang hanya ditulis, bukan diciptakan. Puisi sekali jadi, sekali waktu, tanpa pengendapan, tanpa pengeditan. Sehingga hanya berisi taburan kata-kata indah, tanpa kedalaman. Bahkan seperti potongan-potongan larik dan bait tersendiri. Tidak ada keutuhan dan harmonisasi struktur tubuh dan batin (puisinya). Menulis-menciptakan puisi memang tidak pernah mudah, Itu sebabnya sampai Dami bilang bahwa seorang sastrawan –apalagi penyair- bukan barang mati. Ia bukan mesin kreatif, bukan ayam yang bisa dipaksa bertelur sekian butir tiap hari. Sementara ‘puisi jus buah asli’ adalah sebaliknya. Puisi yang tidak lahir dari ruang kosong, melainkan rahim perenungan. Memiliki kedalaman yang tidak bisa diukur dengan sekilas mata. Ada proses pengendapan dan pengeditan. Ada jarak antara emosi penyair dengan puisinya. Punya keutuhan, bagaimana kata dan tanda ditimbang secara sadar. Sehingga puisi sampai pada apa yang dimaksud Dorothea, bukan tempat menemukan jawaban atau kesimpulan suatu masalah, tapi tempat menemukan pertanyaan dan pemikiran. Bagaimana cara kita membedakan dua jenis puisi di atas? Entahlah, kita tahu ketika membaca. Paling tidak, akan kita rasakan kenikmatan (akan) keindahan secara lahir dan batin. Semacam persetimbangan perpaduan getaran-getaran hidup dalam istilah Chairil atau ‘striptis batin’ dalam istilah Subagio. Apa yang kita minum tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi rasa dan aromanya sampai ke rongga dada. Ibarat panggilan suara, selalu ada gema yang tinggal dan membuat kita ingin menyambutnya. Sebenarnya, tidak ada masalah puisi jenis apa pun –minuman instan atau jus buah asli- selama ditulis dengan ‘sengaja dan mengerti’. Keduanya sama-sama bisa diminum di waktu yang sama atau berbeda sambil mengingat kalimat Goenawan; puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, lalu berakhir dengan kerendahan hati. Dan seorang tiran atau seorang Hitler setiap hari bisa saja membuat seribu slogan, tapi ia tidak akan sanggup membuat sajak yang sejati. Bogor, 02 Oktober 2015 Sumber:
http://www.kabarbangsa.com/2015/10/rasa-rasa-puisi-oleh-sofyan-rh-zaid.html?m=1

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 17 Juli 2015)

MENCINTAI IBU, MERINDUKAN TUHAN
(Sebuah Pengantar Untuk Buku “Ajari Aku, Bu!” Karya Gusti Trisno)
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Saya adalah anak ibu.
Saya bisa mencipta puisi dan seperti sekarang ini, karena ibu.”
D. Zawawi Imron

Ketika seorang anak menangis, yang dicari pertama kali adalah ibunya. Tahu kenapa? Anna Freud menjawab: Seorang anak tidak percaya pada siapapun di dunia ini, kecuali ibunya. Jawaban Anna ini berdasar pada konsep Freud –ayahnya- tentang ‘insting seksual’ (eros) seorang anak pada ibunya. Kata ‘seksual’ di sini adalah rasa nyaman dan aman, sebagai bentuk lain dari kecintaan.

Di samping Freud, Anna juga mengacu pada Alfred Adler dengan konsep ‘insting mati’ (thanatos) -yang belakangan juga diakui oleh Freud- bahwa seorang anak punya rasa ketergantungan yang kuat pada ibunya. Tanpa ibunya, seorang anak selalu merasa terancam dan ketakutan, seakan berada di ambang kematian.

Pada dasarnya tugas seorang ibu tidak selesai seusai melahirkan. Seorang ibu menjadi objek yang mengemban ‘eros’ dan ‘thanatos’ dari anaknya, sekaligus juga sebagai subjek yang merawat, membesarkan dan mengajarkan. Itulah kenapa Jean Piaget bercanda: menjadi seorang ibu lebih berat dari menjadi seorang anak.

Prof. DR. Aisyah Abdurahman dalam Ibunda Para Nabi (1988) menceritakan kalau Muhammad SAW punya banyak ibu. Siapapun wanita yang telah memberikan kasih sayang padanya meski sesaat, ia menganggapnya seorang ibu, sebentuk penghormatan dan penghargaan, apalagi kepada ibu (kandungnya) sendiri. Bahkan ia kerap tidak bisa tidur jika ingat bagaimana perjuangan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknya. Sehingga ia bersabda: surga di bawah kaki ibu.

Ketika seorang anak menjadi dewasa, ada banyak cara mengungkapkan rasa cinta kepada ibunya, salah satunya dengan melalui puisi. Sapardi misalnya bilang, mula-mula seorang penyair menulis puisi tentang apa yang paling dekat dengan dirinya, seperti Tuhan dan ibu.

Dalam perpuisian Indonesia, bisa dipastikan hampir semua penyair pernah menulis puisi kepada ibunya atau tentang ibu, misalnya: Chairil (Puisi Ibu) memandang ibunya sebagai sosok yang kuat dan tidak berkeluh kesah dalam merawat dirinya. Wiji (Sajak Ibu) melihat ibu sebagai orang yang “sanggup mengubah sayur murah menjadi sedap”. Rendra (Jangan Takut, Ibu) menyebutnya sebagai tangan yang dicium serta “rahim dan susumu adalah persemaian harapan”. Taufiq (Dari Ibu Seorang Demonstran) memandang ibu sebagai doa, restu dan pemberi semangat dalam melawan tirani dan memperjuangkan keadilan.

Lain lagi dengan Gus Mus (Ibu), baginya ibu adalah “gua teduh” dan segalanya di dunia; kawah, gunung, mata air, telaga, bulan, matahari, laut dan langit. Emha (Bunda Air Mata) lebih melihat ibu dan Tuhan sebagai dua kutub penting yang saling berkaitan. Sementara Zawawi (Ibu) menyebut ibunya sebagai “pahlawan” yakni “bidadari yang berselendang bianglala” dan “jika ada hutang di dunia ini yang tidak akan pernah sanggup dibayar, adalah hutang anak kepada ibunya”.

Ibu sebagai tema, masih akan terus ditulis dalam puisi oleh anak-anak di dunia. Sebab ibu adalah satu kata yang penuh cinta, rindu, kasih sayang, doa, kesetiaan, semangat, kebaikan dan harapan, maka “tidak ada kata yang lebih indah dari ibu”, kata Jibran. Dan salah satunya adalah Sutrisno G. Alfarizi (Sutrisno) dengan buku puisinya Ajari Aku, Bu! Sekumpulan puisi yang ditulis khusus sebagai persembahan buat ibunya tercinta.

Melalui buku ini, Sutrisno melihat ibu sebagai guru -sekaligus kekasih- yang membawanya dekat kepada Tuhan. Bagaimana dia menghormati, merindukan dan mencintainya begitu dalam. Sutrisno seperti sepakat dengan Inayat Khan bahwa cinta kepada ibu adalah salah satu jalan menuju Tuhan. Puisi-puisi yang ditulisnya semacam ritual. Bahkan dalam puisinya bertajuk Ibu dia sadar; “Tanpamu tak banyak puisi yang tertulis.”

Begitu juga pengakuannya dalam pengantar buku ini, Sutrisno menulis: Puisi adalah keindahan kata yang tak dibatasi oleh rima, irama, ataupun diksi yang indah karena sejatinya puisi itu bersifat abstrak, indah menurut orang ini belum tentu orang itu. Sebab yang dia mau hanyalah cinta kepada ibunya. Dan cinta tentu melampaui segalanya (amor vincit omnia). Misalnya kita lihat pada puisinya yang bertajuk Ajari Aku, Bu!:

Ajari aku, Bu
Menulis sebait puisi
meski tak butuh banyak diksi di dalamnya
karena keindahan dalam jiwamu akan mengalahkan segalanya

Ajari aku, Bu
melagukan kidung-kidung cinta
yang setiap katanya selalu menjadi kerinduan dalam diriku

Bagi Sutrisno, puisi hanyalah salah satu alat untuk mengekspresikan perasaan cinta dan rindu kepada ibunya, jadi tidak membutuhkan diksi atau pun majas yang sukar dan berlebihan, sebab kejujuran dan ketulusan selalu punya bahasa sendiri. Dan lebih indah dari dusta pada akhirnya. Dan “tiap-tiap penyair menghendaki kebebasan yang sebesar-besarnya bagi dirinya,” kata Takdir

Sebagai penutup kata pengantar ini, mari kita nikmati satu puisinya yang jujur, namun tidak kehilangan daya pukau dan puitiknya:

Perindu

Jika RINDU ini semakin menua
Aku takut tak bisa menabungnya
Jika bayang wajahnya hadir di pelupuk mata
Aku takut tak mampu mengusiknya
Jika DIA cemburu karenanya
Aku pun merasakan ketakutan yang luar biasa

Selamat membaca. Hanya jika suatu saat atau telah, kita kehilangan satu-satunya orang di dunia ini yang setia menyebut nama kita dalam doanya, memikirkan dan mengkhawatirkan saat kita pergi, menyuruh kita bangun dan makan setiap waktu, menangis dalam setiap luka yang kita derita, memanggil lembut dan kita tidur di pangkuannya dengan manja, berarti kita telah kehilangan ibu. Dan kita akan terbakar rindu sepanjang waktu. Sebab ibu adalah wakil Tuhan di bumi, kata Iqbal.

Bogor, 26 Juni 2015

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 19 Juni 2015)

KEMATIAN: DI ANTARA INGAT DAN LUPA
OlehSofyan RH. Zaid

“Tak satu pun yang mau mati.
Bahkan orang yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati untukmencapainya.”
Steve Jobs - Apple

Jika ada sesuatu hal yang (ketika) kitamengingat dan melupakannya adalah anugerah, itulah kematian. Bayangkan jikakita terus ingat kematian, begitu tersiksanya hidup ini. Bayangkan juga jikakita terus lupa kematian, betapa angkuhnya diri ini. Itulah kenapa Muhammad SAWmenganjurkan: bekerjalah (untuk duniamu) seakan-akan kamu hidup seribu tahunlagi, beribadalah (untuk akheratmu) seakan-akan kamu mati besok pagi.

Banyak tokoh mencoba mendefinisikan kematianberdasarkan sudut pandangnya  masing-masing, misalnya Luper dalam The Philosophy of Death; kematian adalahberhentinya proses kehidupan (vitalprocess) tanpa bisa dipulihkan lagi. Namun definisi yang paling sederhanaadalah berpisahnya ruh (yang immortal)dari tubuh (yang mortal) untukselamanya. Pada hakekatnya kematian bukanlah kematian, melainkan gerbang untukmemasuki kehidupan selanjutnya. Dalam istilah Heidegger, yang menyebut manusia sebagaiyang “terlempar” ke dalam kehidupan, kematian tidak seperti membaca buku yangsampai pada bab penutup lalu tamat. Kematian bukanlah akhir, tetapi awal.

Ada banyak jenis kematian, misalnya dalamkhazanah tasawuf ada istilah “hati yang mati”. Al-Junaid menyindir orang yanghatinya mati sebagai mayat yang berjalan. Hati yang mati bila berdasar padaAl-Ghazali adalah tidak hadirnya Allah di dalamnya. Lain lagi dalam kajianfilsafat, kematian lebih dekat pada eksistensialisme, sehingga ada istilah "kematianeksistensial", yakni mirip dengan apa yang dituturkan Hume; ketika diritidak berguna lagi atau mengalami hidup yang buruk, tidak adil dan menderita,saat itu dia sudah mati. Itulah sebabnya bagi Hume, bunuh diri tidak menyalahi anugerahTuhan, karena “bisanya manusia untuk bunuh diri” adalah anugerah Tuhan juga.

Terlepas dari berbagai bentuk kematianmetaforis di atas, kematian sebagai suatu peristiwa memiliki dua bagan, yakni kematian personal dan kematian sosial. Kematian personaladalah mati secara pribadi. Ruh keluar dari tubuh menuju asalnya. Kapan dan dimana tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa lari jika waktunya tiba, tidakmaju dan tidak pula terlambat. Allah secara terbuka memberi peringatan: “Di mana saja kamu berada, kematian akan menemukanmu,kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, ...” (QSAn-Nisa 4:78). Sementara kematian sosial adalah kematian seorang manusiasebagai anggota keluarga atau masyarakat. Ada tangis, ada rasa kehilangan.Barangkali juga ada senyum, ada kebahagiaan ketika seseorang mati. Sebagaimana hadis:Apabilaseorang mukmin (baik) meninggal dunia, maka dia telah senang (istirahat) darikesusahan dunia. Dan jika seorang jahat yang meninggal, maka dia menyenangkanseluruh hamba Allah, seluruh negeri, seluruh pohon-pohon, dan binatang darikejahatannya.

Antarakematian personal dan kematian sosial sebenarnya saling terkait. Kematianpersonal seseorang tidak lantas menyebabkan kematiannya secara sosial, itulahsebabnya menurut Damm, kematian seseorang itu butuh orang lain untukmendeklarasikan kematiannya, barulah dia juga mati secara sosial. Orang yangbekerja di luar negeri lalu mati (secara personal), tidak ada yang saksi, tidakada kabar, maka dia akan tetap dianggap hidup (secara sosial) di keluarga ataumasyarakatnya untuk kemudian disebut menghilang dalam waktu lama, bukan mati.Begitu juga sebaliknya. Ternyata benar, kematian itu tidak sederhana. Tidaksesederhana perdebatan pemikiran antara Plato dan Aristoteles tentangnya. Seseorangbisa dengan damai mati secara personal, tetapi bisa jadi sangat ramai dandiributkan kematiannya secara sosial. Barangkali ini yang dimaksud Gerung bahwakematian itu hanya momen -bukan monumen-, ketakutan kita (pada kematian) akansedikit terhibur dengan adanya anggur dan bidadari.

Tidak ada yang mengerti benar kematian secarautuh, kecuali yang telah mengalaminya. Kematian tinggal di antara ingat danlupa. Senantiasa mengintai menyeringai tiap waktu. Namun kita tidak perlutakut, karena manusia memang harus mati, sebab jika tidak, apa jadinya.Bayangkan jika kita menjadi Tithonus dalam mitologi Yunani itu, mendapatanugerah (dari dewa) tidak bisa mati, tetapi tubuhnya terus menua. Kita hanyamenunggu waktu untuk mati. Hidup ini pun sangat singkat, itu sebabnya kitaharus berbuat banyak, dan “kita juga harus prihatin dengankehidupan dunia ini dan bergembiradengan kematian," kata Socrates.

Sebagaimana kelahiran, kematian adalahsesuatu yang biasa, hanya semoga saja, kita mati dengan cara yang indah.

Bekasi,17 Juni 2015 

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-