KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 26 Juni 2015)

ARKITAN DAN SAJAK-SAJAK KEMATIANNYA
Oleh Sofyan RH. Zaid

"Sajak adalah suara dari bawah sadar." Subagio Sastrowardoyo


Barangkali hampir semua penyair di zamannya pernah menulis sajak tentang kematian. Kematian seakan menjadi tema yang tidak pernah kering. Bahkan Sartre yang menganggap seni sebagai renungan kehidupan, bukan kematian, juga pernah menulis tentang kematian. Di tangan penyair, kematian yang menakutkan, menjadi begitu romantis; tidak ada yang merindukanmu setulus kematian. Dalam karya sastra, kematian menjadi tema, kadang juga menjadi sebuah ramalan kematian penyairnya sendiri.

Hartojo pernah menulis Maut di Mata Tiga Penyair (1971). Di mata Marsman, maut adalah sesuatu yang individual.  Sesuatu yang dia takutkan, karena maut baginya adalah "penikam dari belakang". Begitulah dia menulis maut dalam sajak-sajaknya, seperti Ontmoeting in Het Donker (Perjumpaan dalam Gelap).

Lain lagi di mata Slauerhoff, maut bukan masalah individual, melainkan masalah sosial. Sebuah ancaman bagi kosmos yang datang dengan beragam bencana, seperti gempa, badai dan kapal tenggelam. Demikianlah maut gentayangan dalam sajak-sajak-sajaknya, semisal De Zee (Lautan).

Sementara di mata Chairil, maut menjadi suatu kesadaran sekaligus perasaan akan datangnya. Berbeda dengan Marsman, Chairil menjadikan maut sebagai alasan untuk menikmati hidup ‘sepuas’ mungkin. Jadi, maut bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau pun sebuah ancaman. Misalnya sajak Yang Terampas dan Yang Putus. Di mana Karet yang disebut dalam sajak tersebut, kemudian menjadi daerah pemakamannya.

Selain Chairil, Kriapur juga demikian. Bahkan dianggap meramalkan kematiannya sendiri lewat sajaknya yang berjudul Kupahat Mayatku di Air. Dan Kriapur akhirnya meninggal dalam sebuah kecelakaan, tenggelam di dasar kali, sebagaimana larik-larik dalam sajaknya yang beku.

Bagaimana dengan Arkitan? Sembilan bulan yang lalu, dia seperti sudah mengabarkan kematiannya. Tepatnya Oktober 2014, Buletin Jejak FSB memuat tiga sajaknya dengan nama Tan Ka. Sajak-sajak yang sekaligus menunjukkan kematangan dan perkembangan proses kreatifnya yang mengagumkan semenjak dia kuliah jurusan Psikologi, UP’45 Jogjakarta (2013), setelah lulus dari Madrasah Miftahul Ulum, Batang-batang, Sumenep.

Sajak-sajaknya di Buletin Jejak begitu memukau dan aneh, berbeda dengan sajak-sajaknya sebelum itu. Secara hermeneutik,  ada banyak frase dan larik, -bahkan seluruhnya- yang perlu digaris-bawahi. Misalnya meminjam “pemahaman” Habermas sebagai salah satu tokohnya, sajak Arkitan seperti penerapan proposisi-proposisi kematian ke dalam fakta yang terbentuk secara bebas dan perlahan, di mana perasaan dan pengertian bisa berpadu menjadi satu kenyataan.

Meski Habermas juga menyadari, tidak setiap fakta (misalnya sajak) bisa dipahami secara utuh. Sebab ada beberapa fakta yang memang tidak bisa dinterpretasi. Selalu ada makna yang melebihi kenyataan, khususnya untuk hal-hal yang berada di luar jangkauan pikiran.

Melalui sajak-sajaknya tersebut Arkitan seperti ‘meramal’ kematiannya sendiri jauh-jauh hari, walau tidak ada diksi yang tersurat sebagai idiom kematian, seperti kata kuburan, nisan, kenanga, kegegelapan dan sebagainya. Namun dari sisi metafora yang dipakai mengarah pada kematian: ketidakberdayaan, kelemahan, kepergian, kesunyian, penyerahan dan harapan akan keabadian, dengan pilihan kata yang plastis dalam makna tersirat.

Bagaimana pun kata merupakan suatu kesatuan dalam bahasa yang memiliki stabilitas intern dan mobilitas posisional yang berkomposisi sekaligus bebas. Itulah kenapa menurut Keraf: tidak ada batasan kata dalam semua bahasa di dunia. Kalaupun kata bisa dipilih sebagai diksi dalam sajak, namun kata sebenarnya tidak bisa ditaklukkan sepenuhnya. Kata selalu punya kehendak bebas. Penyair hanya mampu mengendalikan pengertiannya saja berdasarkan maksud yang ingin disampaikan.

Berikut tiga sajak Arkitan, sajak yang menyimpan ‘gema’ -dalam istilah Sadra- dari suara yang jatuh dari langit, sebagai kabar sebelum menjadi realitas di bumi.

SEBUAH PAGI

Terdampar di sebuah pagi.
Laut tak segera surut
dan darat mulai karat.

Tak ada yang mesti pergi
atau kembali. Untuk memaknai
sebuah peristiwa

Berangkat dalam rahasia,
kembali dalam rahasia.

Sebab tak ada mimpi yang perlu diperjuangkan
habis-habisan. Menyesal berlebihan
tiap masa yang busuk kemarin.

Sebab kita cukup mampu
di semua selat bersatu
dengan yang kita cintai.

Madura, 2014

DI HUTAN KATA

Di hutan kata,
aku seekor burung
lupa pohon juga sarang.

Terbang
dari batas ke batas hutan. Mencari riang
hilang dalam sebuah kebebasan.

Jika pun aku harus tertembak
pada sebuah lelah
dengan ketapel anak-anak di pagi tua.

Tak setetes darah dan
sehelai bulu pun kubiar jatuh
tanpa kenangan.

Yogyakarta, 2014

BAKA

Waktu yang terbuang dari ruang
dan ruang yang terbuang dari waktu,
satu dalam diri

kita yang menunda penderitaan
kelelawar hitam terbang ke kelam
tak bakal tua dan binasa

Yogyakarta, 2014

Tentu Arkitan tidak sebanding dengan Marsman, Slauerhoff, Chairil dan Kriapur, namun lewat sajak-sajaknya dia telah menuliskan kematiannya sendiri secara indah dan romantis. Mungkin ini yang dimaksud Saini: “Seorang penyair menulis puisi bukan didorong oleh keinginan karena ia memiliki ide (gagasan), Seorang penyair menulis puisi karena dorongan yang kuat dalam dirinya yakni sebuah dorongan yang meski  berulang-ulang ditolaknya, akhirnya menggerakan tangannya untuk menulis.”

Setelah berulang kali kembali dari pintu kematian, Arkitan akhirnya benar-benar pergi di usianya yang ke-23 tahun sebab penyakit TBC, tepat hari Selasa, 23 Juni 2015 dan hanya kurang sebulan dari tanggal undangan pesta pernikahannya yang sudah tersebar.  

Ya, Arkitan yang pendiam itu memang sudah pergi, namun kenangan dan sajak-sajaknya akan tetap tinggal.

24 Juni 2015

Share:

Tidak ada komentar:

Blogger templates

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra, sodales ipsum et, sodales urna. In massa nisi, faucibus id egestas eu, fringilla

Popular Posts

Category

Google+ Badge

FAQ's

ad970
Featured Posts

Most selected posts are waiting for you. Check this out

Most Viewed

ad728

Featured

Auto News

Fashion

Music

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Recent Story

Popular Posts

Popular Post

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Fashion

About us

FAQ's

Instagram

Tags 1

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads

ads

ads

tile-1

ads

Slider


Posts

Category

Labels

Life & style

Stats

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Comments

Random Posts

Follow Us on Facebook

Kawacapedia

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Recent Posts

Comments

Find Us On Facebook

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Post Top Ad

Responsive Ads Here

FEATURED VIDEO

LightBlog

International

About us

Sports

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Videos

Style4

Video Of Day

video example

recent posts

Labels

Labels

Labels

About Me

Foto Saya
sofyan rh. zaid
Sofyan RH. Zaid, lahir di Sumenep, 08 Januari 1986. Alumni PP Annuqayah Lubra, Guluk-guluk, Sumenep, dan Universitas Paramadina Jakarta. Kini sebagai kurator, editor, dan anggota Pokja Keuangan dan Perbankan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN). Buku puisinya Pagar Kenabian (2015) masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia (2015). Selengkapnya: https://id.wikipedia.org/wiki/Sofyan_RH._Zaid
Lihat profil lengkapku

Tags 3

Labels

Labels

Ads

Labels

Translate

"mengalir saja perlahan # sampai bertemu lautan"

Breaking News

Sponsor

test

Flickr Images

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Adbox

Popular Posts

Most Popular

Most Recent

Categories

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.