12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 02 Oktober 2015)

RASA-RASA PUISI Oleh Sofyan RH. Zaid
“Puisi itu seperti memijat mata, kalau sudah lihat puisi, saya bisa tidur.”
Umbu Landu Paranggi
Barangkali kita sering meneguk minuman instan dalam kemasan gelas atau botol plastik, seperti Ale-ale, Fruitang, Vitazon, Mizon dan sebagainya. Produk minuman seperti ini seolah memang diciptakan untuk menjawab kebutuhan bagi zaman yang semakin tergesa dan serba mudah. Dalam istilah Marshall disebut ‘kreatif kapitalis’, sebuah keadaan yang perlahan diciptakan, dan kita digiring pada keterpaksaan mengikutinya dengan sadar ataupun tidak. Ibarat sebuah penyakit, virus dan obatnya diciptakan oleh orang yang sama untuk kepentingan tertentu. Padahal kita tahu, minuman instan tersebut tidak baik untuk kesehatan. Bisa menjadi titik awal timbulnya penyakit. Merupakan hasil rekayasa kimia dan teknologi. Campuran zat pewarna, pemanis buatan dan rasa sintetis yang melahirkan aroma Jeruk, Anggur, dan sebagainya. Dan kita kadang meneguknya seperti meneguk jus buah asli. Sementara itu hanya rasa yang palsu. rasa yang seolah, rasa yang seperti. Barangkali kita juga memetik buah di kebun atau membelinya di pasar, kemudian kita olah menjadi jus. Saat itulah kita sedang meneguk jus buah yang sebenarnya. Sari buah yang memberi manfaat dengan beragam vitamin yang dikandung. Tentu harganya tidak semurah minuman instan, begitu juga proses mendapatkannya. Nah, fenomena perpusian kita belakangan ini, seperti dua jenis minuman di atas. Banyak ‘puisi minuman instan’, puisi yang hanya ditulis, bukan diciptakan. Puisi sekali jadi, sekali waktu, tanpa pengendapan, tanpa pengeditan. Sehingga hanya berisi taburan kata-kata indah, tanpa kedalaman. Bahkan seperti potongan-potongan larik dan bait tersendiri. Tidak ada keutuhan dan harmonisasi struktur tubuh dan batin (puisinya). Menulis-menciptakan puisi memang tidak pernah mudah, Itu sebabnya sampai Dami bilang bahwa seorang sastrawan –apalagi penyair- bukan barang mati. Ia bukan mesin kreatif, bukan ayam yang bisa dipaksa bertelur sekian butir tiap hari. Sementara ‘puisi jus buah asli’ adalah sebaliknya. Puisi yang tidak lahir dari ruang kosong, melainkan rahim perenungan. Memiliki kedalaman yang tidak bisa diukur dengan sekilas mata. Ada proses pengendapan dan pengeditan. Ada jarak antara emosi penyair dengan puisinya. Punya keutuhan, bagaimana kata dan tanda ditimbang secara sadar. Sehingga puisi sampai pada apa yang dimaksud Dorothea, bukan tempat menemukan jawaban atau kesimpulan suatu masalah, tapi tempat menemukan pertanyaan dan pemikiran. Bagaimana cara kita membedakan dua jenis puisi di atas? Entahlah, kita tahu ketika membaca. Paling tidak, akan kita rasakan kenikmatan (akan) keindahan secara lahir dan batin. Semacam persetimbangan perpaduan getaran-getaran hidup dalam istilah Chairil atau ‘striptis batin’ dalam istilah Subagio. Apa yang kita minum tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi rasa dan aromanya sampai ke rongga dada. Ibarat panggilan suara, selalu ada gema yang tinggal dan membuat kita ingin menyambutnya. Sebenarnya, tidak ada masalah puisi jenis apa pun –minuman instan atau jus buah asli- selama ditulis dengan ‘sengaja dan mengerti’. Keduanya sama-sama bisa diminum di waktu yang sama atau berbeda sambil mengingat kalimat Goenawan; puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, lalu berakhir dengan kerendahan hati. Dan seorang tiran atau seorang Hitler setiap hari bisa saja membuat seribu slogan, tapi ia tidak akan sanggup membuat sajak yang sejati. Bogor, 02 Oktober 2015 Sumber:
http://www.kabarbangsa.com/2015/10/rasa-rasa-puisi-oleh-sofyan-rh-zaid.html?m=1

Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-