12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 08 Januar 2016)

ZIDANE
DALAM PERSPEKTIF KEPENYAIRAN
Oleh Sofyan RH. Zaid
“Tidak ada yang tahu Zidane itu malaikat atau iblis. Ia tersenyum seperti
Bunda Teresa dan menyeringai seperti pembunuh berantai.”

Jean-Louis Murat -Musikus

“Puisi yang bagus ditulis dengan darah, itu sebabnya penyair tidak pernah takut (untuk) terluka,” kata Naguib. Setelah kepergian Rafa, Zidane seperti dipaksa keadaan, –kepercayaan dan harapan- memahami dengan benar perkataan Naguib di atas untuk menjadi ‘penyair sepak bola’ yang baik. Seperti menulis puisi, Zidane harus mampu memadukan pikiran, ingatan dan perasaan Real Madrid -sebagaimana bagian dari tiga kebijakan puitis-nya Naowarat- agar kehadirannya bisa menciptakan: permainan yang puitis, senjata yang mendamaikan, dan memanusiakan pemain.
“Setelah makan malam ia selalu tinggal dan duduk di sekitar bar dengan secangkir kopi, siap untuk berbicara dengan pemain manapun. Ia bukan sosok yang lantang, namun ia selalu berbicara dengan semua orang, berbincang ringan dan menunjukkan rasa hormat.” Demikianlah Patrick Vieira menggambarkan Zidane semasa jadi pemain. Atau Franz Beckenbauer: “Zidane unik. Bola mengalir bersamanya. Ia lebih mirip penari ketimbang pemain sepakbola.” Dan juga “Ia berpikir dalam satu momen dan momen berikutnya ia melakukan sesuatu. Ia menciptakan ruang dari ketiadaan. Imajinasi dan tekniknya menakjubkan,” kenang Edgar Davids.
Dunia tahu Zidane sebagai legenda, mendapat pujian dari kawan dan lawannya, dari orang-orang sebelum dan sesudahnya. Misalnya Cesare Maldini: “Aku akan mengorbankan lima pemain untuk memiliki Zidane dalam kesebelasanku.” Dan Zlatan Ibrahimović; “Zidane berasal dari planet lain. Ketika Zidane masuk ke lapangan, sepuluh pemain lain tiba-tiba menjadi lebih baik.” Namun kebesaran namanya sebagai pemain yang hebat, tidak serta menjamin dirinya menjadi pelatih yang hebat. Menjadi pemain dan pelatih sepak bola adalah dua hal yang berbeda, sebagaimana bedanya penyair dengan kritikus. Dan Zidane harus belajar akan itu.
Keputusan Zidane –menyetujui- mengambil alih kepelatihan Real Madrid sampai akhir musim adalah sebuah pertaruhan. Ujian pertama karir kepelatihannya dimulai, sebagai titik awal mengenal dirinya sebagai pelatih; gagal atau sukses. Sebab menjadi pelatih sama seperti –menjadi- penyair: hal pertama yang harus dilakukan adalah ‘sadar diri’ dan ‘sadar karya’. Berapa nilaimu? Berapa nilai karyamu? Kepelatihan maupun kepenyairan sama-sama punya ‘jam tayang’ dan ‘jam terbang’.
Kebijakan besar yang diambil Perez sebagai Presiden Real Madrid dengan menunjuk Zidane, dicurigai terinspirasi dari kesuksesan Pep bersama Barcelona di masa lalu. Tidak ada yang salah dengan inspirasi, seperti halnya menulis puisi, inspirasi bisa didapat dari mana saja, dari angin yang bertiup, daun gugur, kabut asap, makelar undang-undang, calo hukum, saham, sampai kasus korupsi.
Namun dalam hemat saya, Zidane –untuk saat ini- tidak akan sesukses Pep melatih mantan klubnya; Barcelona. Ada perbedaan besar antara Barcelona dengan Real Madrid dalam hal karakter dan filosofi. Barca seperti paham ungkapan Bacon; tidak ada kemajuan yang instan, sementara Madrid lebih paham ucapan JK; lebih cepat lebih baik, meski kadang tidak tepat. Ibarat dua tipe kepenyairan menurut Wellek; Barcelona adalah ‘pengrajin puisi’ dan Real Madrid adalah ‘kesurupan puisi’, Dua tipe kepenyairan ini sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Zidane harus paham ini semua dari awal dan harus sadar jika dia memang harus pergi di akhir musim. Sebab dasar kesadaran itu sendiri adalah selalu pergi setiap yang datang, kata Rumi.
Meski Zidane tidak akan sesukses Pep untuk saat ini, namun bukan berarti Zidane akan gagal dalam karir kepelatihannya. Zidane punya potensi besar untuk melampaui kesuksesan Pep di masa depan, selama Zidane mau sabar menunggu waktu 5 sampai 10 tahun dan memiliki pengalaman menangani minimal 3 klub berbeda sebelum akhirnya kembali ke Real Madrid sebagai pelatih yang sesungguhnya. Ini yang dimaksud pengendapan –pengendepan diri dan karya- untuk mencapai sublimasi sebelum akhirnya tampil ke permukaan dalam proses kreatif kepenyairan. Dengan kata lain; lebih banyak ‘ke dalam’ daripada ‘ke luar’, ketika popularitas tidak pernah menjamin kualitas.
Terlepas dari itu semua saya tahu, Zidane orang yang punya ambisi sekaligus pengetahuan dan tehnik hebat dalam sepak bola dan hidupnya. Hal ini juga diakui oleh Aimé Jacquet: Zidane memiliki visi internal. Kontrolnya sangat tepat dan penuh perhitungan. Ia dapat membuat bola bergerak ke mana saja ia mau. Namun adalah dorongannya yang membawanya maju. Ia 100 persen sepakbola.
Apakah dia akan sukses atau gagal sebagai pelatih? Biarkan saja. Biarkan saya kembali pada kata-kata bebasnya: "Aku pernah menangis karena aku tak punya sepatu untuk bermain bola bersama teman-temanku, tetapi suatu hari aku melihat seorang laki-laki yang tidak punya kaki, dan aku menyadari betapa kayanya aku. Aku cukup beruntung datang dari daerah yang sulit. Ini mengajarkanku bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga hidup. Orang harus berjuang untuk dapat melalui hari. Aku sangat terinspirasi oleh ayahku yang mengajarkan bahwa seorang imigran harus bekerja dua kali lebih keras dari orang lain, dan tidak boleh menyerah.”
Bogor, 07 Januari 2016


Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-