12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 10 Juli 2015)

LAPAR KEBENARAN
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Lapar, ialah kesadaran mendasar manusia, baik yang berpikir atau pun tidak.”
Pramoedya Ananta Toer

Setelah Tuhan menciptakan nafsu, Ia pun bertanya: “Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu dengan tegas menjawab: “Kau adalah kau! Aku adalah aku!” Tuhan melemparnya ke dalam api yang paling panas selama ratusan tahun. Kemudian bertanya lagi: “Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu tetap tegas menjawab: “Kau adalah kau! Aku adalah aku!” Tuhan melemparnya ke dalam air yang paling dingin selama ratusan tahun. Lalu bertanya lagi:“Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu masih tegas menjawab: “Kau adalah kau! Aku adalah aku!”Tuhan melemparnya ke dalam penjara selama ratusan tahun tanpa memberinya makan dan minum. Selanjutnya bertanya lagi: “Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu pun perlahan menjawab:“Engkau adalah Tuhanku. Aku adalah hambaMu.”

Riwayat yang diadaptasi dari kitab Ustman bin Hasan, bahkan sumber lain menyebutnya sebagai hadis qudsi ini, hendak menyatakan kalau nafsu bisa dilemahkan dengan lapar. Ada banyak pengertian tentang lapar, yang paling umum dalam KBBI adalah rasa ingin makan sebab perut kosong. Namun dalam pengertian yang lebih ilmiah; lapar adalah sebuah kondisi yang timbul sebab gula darah dan  suhu panas tubuh menurun, maka makan adalah cara untuk normal kembali. Jadi, lapar bisa menurunkan suhu panas manusia menjadi dingin. Heidegger menyebut lapar sesuatu yang manusiawi, salah satu daftar ‘waktu keseharian’ (sein und zeit) yang menuntut harus dipenuhi, namun bahagialah yang bisa menahannya dengan cara ‘mengada’. Sebab lapar dan manusia saling menghampiri.

Pengertian ini seperti membenarkan Hamsun ketika menggambarkan kebekuan tokohnya -dalam novel Lapar- yang berjuang untuk jadi penulis. Berjalan pucat pasi seperti mayat hidup, tetap menulis dalam kelaparan untuk melawan –atau mengusir- rasa lapar itu sendiri. Dalam hidupnya, lapar dan menulis saling berebut untuk menjadi eksistensi. Atau seperti Socrates saat menyampaikan pidato pembelaannya (Apologia) di depan sidang pengadilan Athena dalam keadaan lapar, sehingga suaranya terdengar begitu dingin dan mencekam.

Di antara nafsu dan lapar ada ‘tali biologis’ yang kuat. Orang yang lapar, nafsunya melemah. Barangkali ini alasan Muhammad SAW dalam hadis lain menganjurkan lapar (puasa) bagi orang yang belum mampu menikah, agar nafsu –syahwat-nya lemah terkendali. Manusia sebagai nafsu yang berpikir, banyak yang menjalani ‘ritual lapar’ (bertapa, tirakat) untuk mencapai kemanusiaan yang sejati –yang ilahi-. Kenapa? Ritual lapar dalam agama disebut puasa. “Rasa lapar dalam puasa menghentikan manusia secara jasmani dari pengingkaran akan Tuhan, serta menyadarkan bahwa ia hanya hambaNya,” kata Cetin dalam Ramadan The Blessed Month of Islam (2006).

Itulah sebabnya puasa diwajibkan kepada agama-agama –langit- sebelumnya, bahkan dalam agama-agama –bumi- ajaran berpuasa juga ada meski dengan cara dan tradisi yang berbeda. Puasa seperti melampaui agama, seperti bisikan kebenaran dalam setiap kebudayaan dan peradaban manusia yang berlangsung. Sebab puasa menurut Ozalp: menjauhkan manusia dari nafsu jasmani dan kehendak untuk melakukan kejahatan. Sehingga dengan melatih hasrat (will-power) dan belajar disiplin mengendalikan diri akan mendorong manusia mencapai keberhasilan dalam segala bidang kehidupan: individual, sosial dan spiritual.

Sementara dalam Islam, puasa diwajibkan di bulan Ramadan, -bulan kesembilan hijriyah- kemudian menjadi sunnah, mubah serta haram hukumnya di saat-saat tertentu. Dalam kitabMin Khutab ar-Rasul, karangan Syekh Thaha Abdullah Al-Afifi, melalui khotbahnya Muhammad SAW menyebut Ramadan sebagai bulan kesabaran dan kesabaran pahalanya adalah surga, atau juga bulan pelipur lara. Yaitu sabar menahan nafsu dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan, sabar menahan diri dari segala bentuk duniawi yang mengurangi keutamaan puasa, dan sabar -sebagaimana puasa khusus versi Al-Ghazali- menahan hati dari segala sesuatu selain Allah.

Dalam sebuah hadis yang sahih -Bukhari dan Muslim-, Allah secara terbuka mengakui bahwa “...Puasa itu untukKu. Aku sendiri yang akan membalasnya. Bagi orang yang (sedang) berpuasa, Aku berikan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu denganKu...” Betapa mulianya bulan Ramadan dan bahagianya orang-orang berpuasa. Wajar jika Gulen memajaskan Ramadan sebagai taburan cahaya kembang api dari langit yang berasal dari surga. Atau dalam istilah Kamran sebagai bulan pemberhentian setelah berlari dari bulan-bulan sebelumnya, untuk melakukan refleksi spiritual, melakukan amal lebih banyak, berkumpul bersama keluarga dan sahabat untuk mencapai tingkatan takwa.

Namun walaupun; lapar bisa melemahkan nafsu, bisa menjadi ritual keagamaan (puasa) untuk mencapai kebaikan tertinggi (summum bonum), bisa mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi lapar juga bisa mendekatkan kita kepada setan; kekafiran, kejahatan dan kemarahan. Sebab lapar merupakan awal pemberontakan manusia dalam dirinya, dan itu terus terjadi setiap hari sepanjang hidupnya. Jika suatu saat kita pun –terpaksa- harus menjalani kelaparan karena tidak ada yang bisa dimakan –baik alami atau kejahatan- seperti di Bengali (1770), Chalisa (1783), China (1958), Sovyet (1932), Korut (1994) dan peristiwa lainnya dalam sejarah manusia yang mengerikan, semoga kelaparan kita diselamatkan; lapar yang senantiasa membawa kita pada kebenaran.

09 Juli 2015

Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-