KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 10 Juli 2015)

LAPAR KEBENARAN
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Lapar, ialah kesadaran mendasar manusia, baik yang berpikir atau pun tidak.”
Pramoedya Ananta Toer

Setelah Tuhan menciptakan nafsu, Ia pun bertanya: “Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu dengan tegas menjawab: “Kau adalah kau! Aku adalah aku!” Tuhan melemparnya ke dalam api yang paling panas selama ratusan tahun. Kemudian bertanya lagi: “Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu tetap tegas menjawab: “Kau adalah kau! Aku adalah aku!” Tuhan melemparnya ke dalam air yang paling dingin selama ratusan tahun. Lalu bertanya lagi:“Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu masih tegas menjawab: “Kau adalah kau! Aku adalah aku!”Tuhan melemparnya ke dalam penjara selama ratusan tahun tanpa memberinya makan dan minum. Selanjutnya bertanya lagi: “Siapa Aku? Siapa kau?” Nafsu pun perlahan menjawab:“Engkau adalah Tuhanku. Aku adalah hambaMu.”

Riwayat yang diadaptasi dari kitab Ustman bin Hasan, bahkan sumber lain menyebutnya sebagai hadis qudsi ini, hendak menyatakan kalau nafsu bisa dilemahkan dengan lapar. Ada banyak pengertian tentang lapar, yang paling umum dalam KBBI adalah rasa ingin makan sebab perut kosong. Namun dalam pengertian yang lebih ilmiah; lapar adalah sebuah kondisi yang timbul sebab gula darah dan  suhu panas tubuh menurun, maka makan adalah cara untuk normal kembali. Jadi, lapar bisa menurunkan suhu panas manusia menjadi dingin. Heidegger menyebut lapar sesuatu yang manusiawi, salah satu daftar ‘waktu keseharian’ (sein und zeit) yang menuntut harus dipenuhi, namun bahagialah yang bisa menahannya dengan cara ‘mengada’. Sebab lapar dan manusia saling menghampiri.

Pengertian ini seperti membenarkan Hamsun ketika menggambarkan kebekuan tokohnya -dalam novel Lapar- yang berjuang untuk jadi penulis. Berjalan pucat pasi seperti mayat hidup, tetap menulis dalam kelaparan untuk melawan –atau mengusir- rasa lapar itu sendiri. Dalam hidupnya, lapar dan menulis saling berebut untuk menjadi eksistensi. Atau seperti Socrates saat menyampaikan pidato pembelaannya (Apologia) di depan sidang pengadilan Athena dalam keadaan lapar, sehingga suaranya terdengar begitu dingin dan mencekam.

Di antara nafsu dan lapar ada ‘tali biologis’ yang kuat. Orang yang lapar, nafsunya melemah. Barangkali ini alasan Muhammad SAW dalam hadis lain menganjurkan lapar (puasa) bagi orang yang belum mampu menikah, agar nafsu –syahwat-nya lemah terkendali. Manusia sebagai nafsu yang berpikir, banyak yang menjalani ‘ritual lapar’ (bertapa, tirakat) untuk mencapai kemanusiaan yang sejati –yang ilahi-. Kenapa? Ritual lapar dalam agama disebut puasa. “Rasa lapar dalam puasa menghentikan manusia secara jasmani dari pengingkaran akan Tuhan, serta menyadarkan bahwa ia hanya hambaNya,” kata Cetin dalam Ramadan The Blessed Month of Islam (2006).

Itulah sebabnya puasa diwajibkan kepada agama-agama –langit- sebelumnya, bahkan dalam agama-agama –bumi- ajaran berpuasa juga ada meski dengan cara dan tradisi yang berbeda. Puasa seperti melampaui agama, seperti bisikan kebenaran dalam setiap kebudayaan dan peradaban manusia yang berlangsung. Sebab puasa menurut Ozalp: menjauhkan manusia dari nafsu jasmani dan kehendak untuk melakukan kejahatan. Sehingga dengan melatih hasrat (will-power) dan belajar disiplin mengendalikan diri akan mendorong manusia mencapai keberhasilan dalam segala bidang kehidupan: individual, sosial dan spiritual.

Sementara dalam Islam, puasa diwajibkan di bulan Ramadan, -bulan kesembilan hijriyah- kemudian menjadi sunnah, mubah serta haram hukumnya di saat-saat tertentu. Dalam kitabMin Khutab ar-Rasul, karangan Syekh Thaha Abdullah Al-Afifi, melalui khotbahnya Muhammad SAW menyebut Ramadan sebagai bulan kesabaran dan kesabaran pahalanya adalah surga, atau juga bulan pelipur lara. Yaitu sabar menahan nafsu dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan, sabar menahan diri dari segala bentuk duniawi yang mengurangi keutamaan puasa, dan sabar -sebagaimana puasa khusus versi Al-Ghazali- menahan hati dari segala sesuatu selain Allah.

Dalam sebuah hadis yang sahih -Bukhari dan Muslim-, Allah secara terbuka mengakui bahwa “...Puasa itu untukKu. Aku sendiri yang akan membalasnya. Bagi orang yang (sedang) berpuasa, Aku berikan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu denganKu...” Betapa mulianya bulan Ramadan dan bahagianya orang-orang berpuasa. Wajar jika Gulen memajaskan Ramadan sebagai taburan cahaya kembang api dari langit yang berasal dari surga. Atau dalam istilah Kamran sebagai bulan pemberhentian setelah berlari dari bulan-bulan sebelumnya, untuk melakukan refleksi spiritual, melakukan amal lebih banyak, berkumpul bersama keluarga dan sahabat untuk mencapai tingkatan takwa.

Namun walaupun; lapar bisa melemahkan nafsu, bisa menjadi ritual keagamaan (puasa) untuk mencapai kebaikan tertinggi (summum bonum), bisa mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi lapar juga bisa mendekatkan kita kepada setan; kekafiran, kejahatan dan kemarahan. Sebab lapar merupakan awal pemberontakan manusia dalam dirinya, dan itu terus terjadi setiap hari sepanjang hidupnya. Jika suatu saat kita pun –terpaksa- harus menjalani kelaparan karena tidak ada yang bisa dimakan –baik alami atau kejahatan- seperti di Bengali (1770), Chalisa (1783), China (1958), Sovyet (1932), Korut (1994) dan peristiwa lainnya dalam sejarah manusia yang mengerikan, semoga kelaparan kita diselamatkan; lapar yang senantiasa membawa kita pada kebenaran.

09 Juli 2015

Share:

Tidak ada komentar:

Blogger templates

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra, sodales ipsum et, sodales urna. In massa nisi, faucibus id egestas eu, fringilla

Popular Posts

Category

Google+ Badge

FAQ's

ad970
Featured Posts

Most selected posts are waiting for you. Check this out

Most Viewed

ad728

Featured

Auto News

Fashion

Music

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Recent Story

Popular Posts

Popular Post

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Fashion

About us

FAQ's

Instagram

Tags 1

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads

ads

ads

tile-1

ads

Slider


Posts

Category

Labels

Life & style

Stats

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Comments

Random Posts

Follow Us on Facebook

Kawacapedia

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Recent Posts

Comments

Find Us On Facebook

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Post Top Ad

Responsive Ads Here

FEATURED VIDEO

LightBlog

International

About us

Sports

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Videos

Style4

Video Of Day

video example

recent posts

Labels

Labels

Labels

About Me

Foto Saya
sofyan rh. zaid
Sofyan RH. Zaid, lahir di Sumenep, 08 Januari 1986. Alumni PP Annuqayah Lubra, Guluk-guluk, Sumenep, dan Universitas Paramadina Jakarta. Kini sebagai kurator, editor, dan anggota Pokja Keuangan dan Perbankan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN). Buku puisinya Pagar Kenabian (2015) masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia (2015). Selengkapnya: https://id.wikipedia.org/wiki/Sofyan_RH._Zaid
Lihat profil lengkapku

Tags 3

Labels

Labels

Ads

Labels

Translate

"mengalir saja perlahan # sampai bertemu lautan"

Breaking News

Sponsor

test

Flickr Images

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Adbox

Popular Posts

Most Popular

Most Recent

Categories

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.