KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 11 September 2015)

MANUSIA PENCIPTA
(Epilog Buku 50.000 Ma’(w)ar: Antomena Sajak #10Huruf karya Shiny Ane El-Poesya)
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Pembaca adalah raja di depan sebuah karya, tak satu pun yang dapat memaksanya.
Begitupun sebaliknya, pengarang adalah raja saat ia menuliskan karyanya,
tak seorang pun yang dapat menindas ide dari imajinasinya.”

Radhar Panca Dahana

Dalam perdebatan klasik –bahkan mungkin klise-, Plato dalam The Republic menyebut tukang kayu yang membuat kursi, lebih bermanfaat dibanding penyair yang menulis puisi tentang kursi. Sebab baginya sastra hanya tiruan alam (mimesis) dan penyair adalah plagiat alam semesta. Sementara Aristoteles dalam The Poetics menyangkal pandangan itu dengan mengatakan; alam yang diciptakan Tuhan hanyalah titik tolak –bagi penyair- untuk menciptakan karyanya sebagai ‘alam baru’ yang memiliki struktur realitas sendiri. Jadi, penyair bukan ‘peniru’, melainkan ‘pencipta’.

Kemudian Horatius –sekaligus melengkapi pandangan Aristoteles- melalui De Arte Poeticamenyebutkan; struktur realitas karya sastra –paling tidak- dapat memberikan subtansi moral, keindahan yang bermanfaat dan menyenangkan. Di samping itu, Longius dalam On The Sublime juga memberikan tiga struktur utama bagi penciptaan karya sastra, yakni: falsafah dan persoalan penting yang diangkat, gaya bahasa serta emosi yang terpelihara, dan tahan terhadap zaman. Hal ini menunjukkan bahwa penyair selalu dipaksa menjadi ‘manusia pencipta’ dan mempunyai kepekaan sosial yang tinggi serta wawasan kemanusian yang mendalam. Wajar apabila penyair kemudian memiliki perasaan dan pemikiran yang lebih ‘jauh’ dibanding orang-orang pada umumnya.

Namun pandangan di atas, dianggap terlalu pragmatis; terlalu berharap banyak pada penyair dan karyanya sebagai bentuk ekspresi bebas manusia, kata Sartre. Karya sastra harusnya tetap dibaca sebagai karya sastra, bukan teks ceramah, buku panduan, ajaran moral atau filsafat, meski karya sastra tidak menutup kemungkinan memiliki unsur tersebut -sebagai nilai-. Hal ini juga sejalan dengan keyakinan Engels, bahwa karya sastra harus dihargai telebih dulu sebagai karya seni, atau puisi sebagai karya sastra, kemudian baru dihargai sebagai cerminan eksistensi masyarakat, pemikiran dan sebagainya. Begitu juga dengan buku 50.000 Ma’(w)ar: Antomena Sajak #10Huruf karya Shiny Ane El-Poesya ini.

Melalui pengantar bukunya, Shiny secara terbuka mengatakan:
“Sajak #10huruf, apabila kita hendak “letakkan” dalam mangkuk sejarah kepenyairan kita yang seperti saat ini, adalah merupakan satu dukungan kreatif, serta upaya “menyanggupi” fenomena “kembalinya puisi struktur” yang—menurut penulis—sedang berusaha melakukan “gerakan” keluar dari situasi tak “terkontrolnya” puisi gaya-bebas dan cenderung bergeser ke arah membanal itu; Bahkan hingga mengenai arah proses produksi karya sastra itu sendiri: Fenomena “asal-unggah” khas masyarakat virtual, kecenderungan merebaknya penerbitan-penerbitan atas nama pribadi, dan juga “matinya” lembaga kritik, sepi dan “mandul”nya kritik yang kreatif di tengah-tengah terjadinya proses desakralisasi penulisan sejarah (kebaruan) kesusastraan Indonesia Modern, memperparah suasana “bising” ini.”

Terlepas dari apapun tentang buku ini, kita harus sepakat dengan Walter dalam The Renaissance: Studies in Art and Poetry, bahwa puisi sebagai karya sastra datang kepada kita dan menganjurkan; menerima suatu kualitas tertinggi yang diberikan pada waktu-waktu yang telah dilalui, setelah itu biarlah ia menunjukkan dirinya kepada kita pada masa-masa yang akan datang. Akan tetapi paling tidak nilai sebuah karya -bagi Joyce dalam A Portrait of The Artist as aYoung Man- secara tehnis, kualitas keindahannya dapat dirasakan dengan baik apabila memiliki tiga karakter penciptaan, yaitu:

Pertama; Integritas; kesatuan yang padu dari setiap unsur yang ada di dalamnya. Masing-masing harus berfungsi membangun wujudnya yang tunggal. Bukan sekadar unsur yang berkumpul tanpa hubungan. Kedua: Harmoni; keserasian yang proporsional, bertalian secara tepat dan kuat demi satu bentuk ideal, meskipun bagian-bagiannya terdiri dari unsur yang ‘sedang berkonflik’ sebab adanya sifat yang bertentangan, namun harus tetap bisa diseimbangkan dan diselaraskan sehingga menjadi bentuk yang stabil. Ketiga: Individuasi;keunikan tersendiri yang berarti hasil karya seni tidak bisa ditukar dengan hasil karya seni yang lainnya, meski tidak dapat dihindari hasil karya seni selalu mempunya anasir persamaan yang bersifat universal, namun tidak menghilangkan karakteristik individualnya. 

Buku ini layak dibaca dan diperbincangkan sebagai sebuah buku puisi -yang kata Dorothea- menawarkan nilai, atau lontaran gagasan dan ide, di mana pencipta bukan penafsir tunggal dan pembaca bebas melakukan penafsiran sendiri. Juga sebuah buku yang berteriak lantang bahwa penyair adalah makhluk gelisah. Itu sebabnya dia tidak pernah merasa nyaman berada di zona aman. Dia terus mencari hal-hal baru yang mungkin –dan tidak mungkin- dalam proses kreatifnya, sampai pada akhirnya dia berhasil menemukan ‘puncak di kedalaman’.

Sekali lagi, penyair adalah pencipta, tapi bukan Tuhan. Sebab sekeras apapun penyair mencipta, tidak akan pernah bisa sama, apalagi melampauiNya. Sebagai ‘manusia pencipta’, penyair dan karyanya kadang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh masyarakat. Menyebabkan ia ‘dikucilkan’ dan dianggap sebagai orang gila. Namun jangan khawatir, jika karya yang diciptakannya punya kualitas ‘life time’, pada akhirnya masyarakat akan mengakui kalau penyair adalah orang yang paling waras dan diterima sebagai pembaharu. Sekalipun pengakuan itu muncul setelah penyairnya tiada, kata Teeuw.

Bogor, 07 September 2015

Share:

Tidak ada komentar:

Blogger templates

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra, sodales ipsum et, sodales urna. In massa nisi, faucibus id egestas eu, fringilla

Popular Posts

Category

Google+ Badge

FAQ's

ad970
Featured Posts

Most selected posts are waiting for you. Check this out

Most Viewed

ad728

Featured

Auto News

Fashion

Music

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Recent Story

Popular Posts

Popular Post

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Fashion

About us

FAQ's

Instagram

Tags 1

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads

ads

ads

tile-1

ads

Slider


Posts

Category

Labels

Life & style

Stats

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Comments

Random Posts

Follow Us on Facebook

Kawacapedia

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Recent Posts

Comments

Find Us On Facebook

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Post Top Ad

Responsive Ads Here

FEATURED VIDEO

LightBlog

International

About us

Sports

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Videos

Style4

Video Of Day

video example

recent posts

Labels

Labels

Labels

About Me

Foto Saya
sofyan rh. zaid
Sofyan RH. Zaid, lahir di Sumenep, 08 Januari 1986. Alumni PP Annuqayah Lubra, Guluk-guluk, Sumenep, dan Universitas Paramadina Jakarta. Kini sebagai kurator, editor, dan anggota Pokja Keuangan dan Perbankan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN). Buku puisinya Pagar Kenabian (2015) masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia (2015). Selengkapnya: https://id.wikipedia.org/wiki/Sofyan_RH._Zaid
Lihat profil lengkapku

Tags 3

Labels

Labels

Ads

Labels

Translate

"mengalir saja perlahan # sampai bertemu lautan"

Breaking News

Sponsor

test

Flickr Images

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Adbox

Popular Posts

Most Popular

Most Recent

Categories

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.