12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat 14 Agustus 2015)

SURAT KEPADA ALFREDA
Oleh Sofyan RH. Zaid

Alfreda, aku menulis surat ini saat lampu padam. Tepat di hari ulang tahunmu. Ditemani sepotong lilin yang rela membakar dirinya demi cahaya. Sesekali laron mendekat dan terbakar. Aku melihat bulan beku di antara kelip bintang. Angin yang nakal menyusupkan dingin bersama wajahmu. Lewat surat ini, aku ingin mengenangmu. Mengenang pagi, pertama kita kehilangan hati. Ke wangi bunga, tetes embun dan terbit matahari, kita mencari. Ternyata di tubuhku hatimu, di tubuhmu hatiku. Kita malu-malu saling meminta, kemudian membiarkan tertukar. Aku menjadi kau, kau menjadi aku. Kita mulai berjalan bergandeng tangan perasaan. Derap jadi irama, jejaknya menjadi tanda. Perjalanan kita telah cukup jauh untuk kembali. Melewati batas demi batas. Kaki luka, kerikil dan duri berganti menusukkan diri. Dan kita mengerti; ketulusan selalu punya bahasa sendiri.

Alfreda, aku menulis surat ini bukan berarti ingin kembali ke masa lalu, masa di mana kita pernah berjumpa dan jatuh cinta. Aku hanya mengenang itu semua. Membuka ingatan, album  lama bersamamu. Segala bentuk gelisah dan keterasingan dapat sejenak aku lupakan. Aku rindu menulis surat, dan aku selalu bahagia tiap kali menulisnya untukmu, apalagi di hari ulang tahunmu. Lewat surat ini, aku ingin mengenangmu. Mengenang rasa, sepiku penuh baris gigimu. Malammu penuh tebal alisku. Kita mulai kenal rindu, kerap menghitung waktu. Kadang menangis dan tersenyum sendiri. Menjadi bagian dari kegilaan yang sadar: Orang yang bisa membuat kita bahagia adalah orang yang juga bisa membuat kita berdukaBegitulah tanda kedekatan jiwa. Kita seolah lebih tua dari usia. Menjadi begitu bijak, begitu pujangga. Surat menjadi jembatan antara hati kita. Seperti dua kampung yang terhubung. Dari sanalah jejak kepenyairanku bermula.

Alfreda, apa kabarmu di Pesantren? Semoga kau baik-baik saja seperti dalam doaku setiap waktu. Sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa, sejak berpisah di alun-alun kota malam itu. Aku sendiri baik-baik saja di perantauan. Hanya hidup di kota ini seperti tinggal dekat matahari. Panas menyengat. Segala sesuatu terjadi tanpa pernah bisa dihindari. Usia habis di jalan ditelan kemacetan. Diri terasing dari kehidupan dan perlahan menjadi boneka yang berpikir. Itulah kenapa aku kerap lupa kepadamu. Ingatan penuh asap dan debu, serta sejumlah rencana yang tak nyata. Mimpi-mimpi terdampar di batas benda. Kepulangan-kepulangan yang tertunda. Tapi percayalah, cinta kepadamu tetap ada. Itu yang membuatku bertahan di sini, sampai malam ini, meski rindu kerap memaksaku untuk bertemu.

Alfreda, kota tempat aku merantau, telah menjadi hutan beton. Sepanjang hari deru gemuruh. Orang-orang kehilangan burung dan napas pohon. Ceropong-ceropong terus melolong seperti serigala di siang hari. Tanah-tanah kosong telah berganti gedung-gedung. Rumah-rumah penduduk digusur menjadi jalan. Hutan-hutan kecil di tepian untuk meredam gairah hujan, telah menjadi pabrik-pabrik besar. Anak-anak kehilangan taman tempat mengejar kupu-kupu atau memetik bunga. Kehilangan tanah lapang tempat bermain layang-layang atau duduk bersama mentatap senja. Kehilangan bening sungai untuk mandi dan berenang. Katanya ini kota maju, tapi banyak pemulung hidup beranak dalam sampah. Gelandangan menghuni jembatan, peminta-minta hampir memenuhi sudut-sudut kota. Kejahatan terjadi di mana-mana. Dan para pribumi telah menjadi perantau di kotanya sendiri. Kota yang diwariskan leluhurnya hanya tersisa dalam kenangan.

Alfreda, apa kabar orang tuamu? Kadang aku masih suka tersenyum sendiri kemudian menitikkan air mata tanpa sadar, jika ingat peristiwa itu. Peristiwa yang ditulis luka menjadi sejarah dalam hidupku. Dengan penuh keyakinan dan keberanian aku datang sendiri melamarmu, tapi sayang ayahmu menolak keras niat yang aku sampaikan. Kau juga pasti ingat bagaimana ucapan ayahmu malam itu; “Kamu hanya seorang penyair. Kamu sendiri tahu, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Anakku tidak akan pernah menikah denganmu.” Mendengar ucapannya aku kehilangan keseimbangan. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Seakan laut Lombang dan Slopeng menyatukan debur dalam dadaku. Seolah bulan dan bintang berjatuhan menimpa kepalaku. Perlahan aku beranjak pergi meninggalkan rumahmu. Dan aku tahu, di ujung halaman kau menangis. Begitu juga aku, sepanjang jalan menuju rumah. Aku tidak marah pada ayahmu, hanya aku malu pada diriku sendiri. Mencintaimu aku seperti tertidur panjang dengan mimpi yang indah, tapi malam itu tiba-tiba terjaga dan ketakutan. Airmata membasahi jalan. Kesunyian menuntunku pada kesadaran terdalam.

Alfreda, sudahlah, yang terjadi biar terjadi sebagai bagian dari kedewasaan. Apalagi ayahmu  benar, aku hanya seorang penyair, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Ya, aku hanya seorang penyair pinggiran, bahkan sampai saat ini. Selain puisi dan cinta, tidak ada yang bisa diharap dariku. Kau tahu, sebagai penyair aku tidak dekat dengan penguasa atau pengusaha. Aku hanya terus menulis puisi dan bertahan sebagai penyair, meski beberapa rubrik koran yang memuat puisi sudah lama tiada, sedang  yang masih ada belum memuat puisiku. Sebab puisiku katanya; bukan puisi kritik sosial.

Puisiku tidak berbau pemerkosaan yang kerap terjadi pada anak atau ibu sendiri, bahkan dalam angkutan umum. Puisiku tidak berbau pencurian motor. Puisiku tidak berbau koruptor yang terus merongrong uang negara. Puisiku tidak berbau teroris yang memusuhi negara lain dengan mengebom negara sendiri. Puisiku tidak berbau kekerasan atas nama agama. Puisiku tidak berbau fundamentalisme buta yang suka mengatakan orang lain kafir atau sesat, menolak menghargai perbedaan dan mencari persamaan untuk perdamaian. Puisiku tidak berbau mafia hukum yang bisa memasukkan orang ke penjara seenaknya. Puisiku tidak berbau politikus rakus yang mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan sendiri. Puisiku tidak berbau pemimpin yang lemah dan penakut. Puisiku tidak berbau pesawat jatuh di gunung atau laut. Puisiku tidak berbau Lumpur Lapindo yang terus memancar deras dan meluas. Puisiku tidak berbau lokalisasi yang dilindungi aparat. Puisiku tidak berbau penebangan liar hutan. Puisiku tidak berbau hutang negara.

Sementara puisiku hanya berbau cinta dan rindu kepadamu. Hanya sesekali berbau Tuhan, perihal jalan, harapan dan ketakutan akan keabadian. Dan aku berlindung kepadaNya dariberdiri mengaku sebagai penyairtapi tak satu pun puisi yang ditulis.

Alfreda, akhir bulan ini, kau libur pesantren bukan? jika tak ada aral, aku pun akan pulang ke kampung halaman. Aku sudah suntuk dan bosan di kota ini. Pergi pagi pulang sore, menyaingi matahari. Seperti dahulu, kita akan ke pantai; menikmati senja, pasir putih, cemara udang, barisan nyiur atau para nelayan yang turun dari perahu disambut anak-istri. Kita akan naik gunung; mencari buah jambu, anak burung dan menatap hamparan sawah dari ketinggian seperti halaman kitab suci.

Alfreda, demikian surat ini aku tulis,  tepat di hari ulang tahunmu. Dan  lampu masih saja padam. Sepotong lilin sudah hampir habis membakar dirinya demi cahaya, terus meleleh dalam nyala, seperti cintaku padamu.  

Selamat ulang tahun, Alfreda.
: ciumku dari jauh, dari sebuah kota bernama rindu.

Bekasi, 07 Juni 2014

Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-