KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 17 Juli 2015)

MENCINTAI IBU, MERINDUKAN TUHAN
(Sebuah Pengantar Untuk Buku “Ajari Aku, Bu!” Karya Gusti Trisno)
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Saya adalah anak ibu.
Saya bisa mencipta puisi dan seperti sekarang ini, karena ibu.”
D. Zawawi Imron

Ketika seorang anak menangis, yang dicari pertama kali adalah ibunya. Tahu kenapa? Anna Freud menjawab: Seorang anak tidak percaya pada siapapun di dunia ini, kecuali ibunya. Jawaban Anna ini berdasar pada konsep Freud –ayahnya- tentang ‘insting seksual’ (eros) seorang anak pada ibunya. Kata ‘seksual’ di sini adalah rasa nyaman dan aman, sebagai bentuk lain dari kecintaan.

Di samping Freud, Anna juga mengacu pada Alfred Adler dengan konsep ‘insting mati’ (thanatos) -yang belakangan juga diakui oleh Freud- bahwa seorang anak punya rasa ketergantungan yang kuat pada ibunya. Tanpa ibunya, seorang anak selalu merasa terancam dan ketakutan, seakan berada di ambang kematian.

Pada dasarnya tugas seorang ibu tidak selesai seusai melahirkan. Seorang ibu menjadi objek yang mengemban ‘eros’ dan ‘thanatos’ dari anaknya, sekaligus juga sebagai subjek yang merawat, membesarkan dan mengajarkan. Itulah kenapa Jean Piaget bercanda: menjadi seorang ibu lebih berat dari menjadi seorang anak.

Prof. DR. Aisyah Abdurahman dalam Ibunda Para Nabi (1988) menceritakan kalau Muhammad SAW punya banyak ibu. Siapapun wanita yang telah memberikan kasih sayang padanya meski sesaat, ia menganggapnya seorang ibu, sebentuk penghormatan dan penghargaan, apalagi kepada ibu (kandungnya) sendiri. Bahkan ia kerap tidak bisa tidur jika ingat bagaimana perjuangan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak-anaknya. Sehingga ia bersabda: surga di bawah kaki ibu.

Ketika seorang anak menjadi dewasa, ada banyak cara mengungkapkan rasa cinta kepada ibunya, salah satunya dengan melalui puisi. Sapardi misalnya bilang, mula-mula seorang penyair menulis puisi tentang apa yang paling dekat dengan dirinya, seperti Tuhan dan ibu.

Dalam perpuisian Indonesia, bisa dipastikan hampir semua penyair pernah menulis puisi kepada ibunya atau tentang ibu, misalnya: Chairil (Puisi Ibu) memandang ibunya sebagai sosok yang kuat dan tidak berkeluh kesah dalam merawat dirinya. Wiji (Sajak Ibu) melihat ibu sebagai orang yang “sanggup mengubah sayur murah menjadi sedap”. Rendra (Jangan Takut, Ibu) menyebutnya sebagai tangan yang dicium serta “rahim dan susumu adalah persemaian harapan”. Taufiq (Dari Ibu Seorang Demonstran) memandang ibu sebagai doa, restu dan pemberi semangat dalam melawan tirani dan memperjuangkan keadilan.

Lain lagi dengan Gus Mus (Ibu), baginya ibu adalah “gua teduh” dan segalanya di dunia; kawah, gunung, mata air, telaga, bulan, matahari, laut dan langit. Emha (Bunda Air Mata) lebih melihat ibu dan Tuhan sebagai dua kutub penting yang saling berkaitan. Sementara Zawawi (Ibu) menyebut ibunya sebagai “pahlawan” yakni “bidadari yang berselendang bianglala” dan “jika ada hutang di dunia ini yang tidak akan pernah sanggup dibayar, adalah hutang anak kepada ibunya”.

Ibu sebagai tema, masih akan terus ditulis dalam puisi oleh anak-anak di dunia. Sebab ibu adalah satu kata yang penuh cinta, rindu, kasih sayang, doa, kesetiaan, semangat, kebaikan dan harapan, maka “tidak ada kata yang lebih indah dari ibu”, kata Jibran. Dan salah satunya adalah Sutrisno G. Alfarizi (Sutrisno) dengan buku puisinya Ajari Aku, Bu! Sekumpulan puisi yang ditulis khusus sebagai persembahan buat ibunya tercinta.

Melalui buku ini, Sutrisno melihat ibu sebagai guru -sekaligus kekasih- yang membawanya dekat kepada Tuhan. Bagaimana dia menghormati, merindukan dan mencintainya begitu dalam. Sutrisno seperti sepakat dengan Inayat Khan bahwa cinta kepada ibu adalah salah satu jalan menuju Tuhan. Puisi-puisi yang ditulisnya semacam ritual. Bahkan dalam puisinya bertajuk Ibu dia sadar; “Tanpamu tak banyak puisi yang tertulis.”

Begitu juga pengakuannya dalam pengantar buku ini, Sutrisno menulis: Puisi adalah keindahan kata yang tak dibatasi oleh rima, irama, ataupun diksi yang indah karena sejatinya puisi itu bersifat abstrak, indah menurut orang ini belum tentu orang itu. Sebab yang dia mau hanyalah cinta kepada ibunya. Dan cinta tentu melampaui segalanya (amor vincit omnia). Misalnya kita lihat pada puisinya yang bertajuk Ajari Aku, Bu!:

Ajari aku, Bu
Menulis sebait puisi
meski tak butuh banyak diksi di dalamnya
karena keindahan dalam jiwamu akan mengalahkan segalanya

Ajari aku, Bu
melagukan kidung-kidung cinta
yang setiap katanya selalu menjadi kerinduan dalam diriku

Bagi Sutrisno, puisi hanyalah salah satu alat untuk mengekspresikan perasaan cinta dan rindu kepada ibunya, jadi tidak membutuhkan diksi atau pun majas yang sukar dan berlebihan, sebab kejujuran dan ketulusan selalu punya bahasa sendiri. Dan lebih indah dari dusta pada akhirnya. Dan “tiap-tiap penyair menghendaki kebebasan yang sebesar-besarnya bagi dirinya,” kata Takdir

Sebagai penutup kata pengantar ini, mari kita nikmati satu puisinya yang jujur, namun tidak kehilangan daya pukau dan puitiknya:

Perindu

Jika RINDU ini semakin menua
Aku takut tak bisa menabungnya
Jika bayang wajahnya hadir di pelupuk mata
Aku takut tak mampu mengusiknya
Jika DIA cemburu karenanya
Aku pun merasakan ketakutan yang luar biasa

Selamat membaca. Hanya jika suatu saat atau telah, kita kehilangan satu-satunya orang di dunia ini yang setia menyebut nama kita dalam doanya, memikirkan dan mengkhawatirkan saat kita pergi, menyuruh kita bangun dan makan setiap waktu, menangis dalam setiap luka yang kita derita, memanggil lembut dan kita tidur di pangkuannya dengan manja, berarti kita telah kehilangan ibu. Dan kita akan terbakar rindu sepanjang waktu. Sebab ibu adalah wakil Tuhan di bumi, kata Iqbal.

Bogor, 26 Juni 2015

Share:

Tidak ada komentar:

Blogger templates

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra, sodales ipsum et, sodales urna. In massa nisi, faucibus id egestas eu, fringilla

Popular Posts

Category

Google+ Badge

FAQ's

ad970
Featured Posts

Most selected posts are waiting for you. Check this out

Most Viewed

ad728

Featured

Auto News

Fashion

Music

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Recent Story

Popular Posts

Popular Post

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Fashion

About us

FAQ's

Instagram

Tags 1

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads

ads

ads

tile-1

ads

Slider


Posts

Category

Labels

Life & style

Stats

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Comments

Random Posts

Follow Us on Facebook

Kawacapedia

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Recent Posts

Comments

Find Us On Facebook

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Post Top Ad

Responsive Ads Here

FEATURED VIDEO

LightBlog

International

About us

Sports

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Videos

Style4

Video Of Day

video example

recent posts

Labels

Labels

Labels

About Me

Foto Saya
sofyan rh. zaid
Sofyan RH. Zaid, lahir di Sumenep, 08 Januari 1986. Alumni PP Annuqayah Lubra, Guluk-guluk, Sumenep, dan Universitas Paramadina Jakarta. Kini sebagai kurator, editor, dan anggota Pokja Keuangan dan Perbankan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN). Buku puisinya Pagar Kenabian (2015) masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia (2015). Selengkapnya: https://id.wikipedia.org/wiki/Sofyan_RH._Zaid
Lihat profil lengkapku

Tags 3

Labels

Labels

Ads

Labels

Translate

"mengalir saja perlahan # sampai bertemu lautan"

Breaking News

Sponsor

test

Flickr Images

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Adbox

Popular Posts

Most Popular

Most Recent

Categories

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.