12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 18 September 2015)

PUISI, CINTA DAN WANITA
(Pengantar buku Mahar Untuk Istriku karya Djamaluddin Al-athar)
Oleh Sofyan RH. Zaid

“Berpuisi adalah hak setiap orang.”
Hasan Aspahani


Zaman romantik -sebagai bentuk perlawanan terhadap zaman rasionalisme- boleh saja berakhir pada abad ke-18, namun romantisme itu sendiri akan terus hidup dan mengalir dari zaman-zaman. Sekuat apapun materialisme menyerang, romantisme sebagai sesuatu yang abstrak sekaligus nyata akan tetap ada dan telah menjadi salah satu nilai universal yang diterima di seluruh dunia. Salah satu laut yang paling setia menampungnya adalah sastra, khususnya puisi.

Tidak ada yang tahu kapan pastinya puisi cinta -untuk seorang wanita- pertama kali ditulis dan ditemukan, namun Yapi dalam 123 Ayat Tentang Seni (2012) menuliskan, bahwa 1.000 tahun sebelum Masehi, di sekitar Palestina untuk pertama kalinya dalam sejarah ditemukan sebuah puisi tentang wanita bernama Deborah atau disebut Aisma dalam bahasa Ibrani. Kemudian diterjemahkan menjadi Canticum Canticorum dalam bahasa Latin, Song of Songsdalam bahasa Inggris, Het Hooglied dalam bahasa Belanda, dan Syiru’l Asyar dalam –serapan- bahasa Arab. Puisi ini -menurut para peneliti- ditulis oleh Raja Solomon (atau Nabi Sulaiman AS), sebagaimana tulisan lainnya berupa surat kepada Balqis yang diabadikan dalam Al-Quran. Berikut petikannya:

kiranya ia mencium aku dengan kecupan
Karena cintanya lebih dari pada anggur

Selain itu, ada juga penyair penting Romawi, Gaius Valerius Catullus (84-54 SM) kerapkali menulis dan membacakan puisi-puisi persembahannya untuk seorang wanita yang dia sebut Lesbia, misalnya:
Tidak mungkin ada cinta lagi, Lesbia
Yang melebihi besar cintaku padamu
Tidak mungkin juga ada tali yang mengikat hati
Yang melebihi kuatnya kesetiaanku padamu

Puisi, cinta dan wanita seperti tiga serangkai yang tidak akan terberai sampai hari kiamat. Andai dihitung, puisi cinta -di dunia ini- tentu lebih banyak dari puisi (kritik) sosial, dan puisi cinta untuk wanita, tentu lebih banyak dari puisi cinta untuk Tuhan dan lainnya. Alasan yang paling rasional barangkali, karena tiga hal tersebut sama-sama mempunyai keindahan (estetika) sebagai tali perekatnya.

Plato, Agustine dan Aquinas sepakat, bahwa keindahan itu ada dalam kebenaran. Sehingga –pengalaman- keindahan tidak bergantung pada senang atau tidaknya seseorang, melainkan terletak pada pemahaman intelektualnya terhadap sesuatu yang artistik. Akan tetapi mereka boleh salah memandang keindahan pada puisi, cinta dan wanita berdasarkan pikirannya semata.

Lain lagi dengan Hopkins yang melihat keindahan secara konseptual dan theosofis ke dalam dua bagian; instress, yakni pengaruh yang nyata dari ‘tangan’ Tuhan terhadap cipta kreatifnya seperti pemandangan gunung, laut dan sebagainya. Juga isncape, yakni pemahaman dan kekuatan melihat segala sesuatu dengan hati dan pikiran sebagai puncak realitas dalam pola, irama, dan melodi ciptaan berdasarkan kebenaran Tuhan. Teori Hopkins -perihal inscape- ini seperti membuat dua persepsi tentang keindahan, yaitu keindahan pada proses penciptaannya dan keindahan pada hasil karyanya. Bila diibaratkan puisi, bagaimana penyair merasakan keindahan saat –proses- menulisnya, dan bagaimana pembaca merasakan keindahan –ketika- membaca hasilnya.

Puisi, cinta dan wanita akan tetap bersama selamanya, sebab penyair akan terus menjaga ketiganya dengan baik dan penuh keindahan. Begitu juga dengan Djamaluddin Al-athar (Djamal) dengan bukunya Mahar Untuk Istriku ini. Tentu sebuah mahar yang indah untuk sebuah ‘akad pernikahan’. Puisi-puisi dalam buku ini –seolah- merupakan anasir-anasir kesan, juga pesan lirih tentang ‘pernikahannya’ sendiri yang diceritakan kepada kawan-kawannya tanpa beban, atau juga serupa ajakan samar agar segera menikah dan mengalami keindahan yang sama.
Selain itu, Djamal juga secara terbuka mengungkap perasaannya –baik suka atau duka- kepada wanita yang menjadi ‘istrinya’ dalam buku ini. Misalnya pada puisi bertajuk Aku Mencintaimu:
Aku mencintaimu
Jumlahnya tak terhitung
Jaraknya tak terjangkau
Kata-katanya bagaikan kalung mutiara
Benangnya kuat bagaikan Baja
            Aku mencintaimu
            Qois dan Laila sudah bercerita
            Apa arti cinta tanpa sebuah Harta
            Jalaluddin Rumi dan Kahlil Ghibran
            Menata kata-kata, ungkapan Cinta
            Pada dzat untuk saling menyapa
            Ibnu ‘Arabi berjalan di malam Hari
            Terus menatap langit sambil menjerit-jerit
            Rabi’ah konsep keberaniannya menolak cinta sesama
            Datang pada sebuah Alam yang bernama Cinta
Aku Mencintaimu
Tinta-tintaku semakin habis
Merangkai aksara-aksara bernada mesra
Kertas-kertasku semakin kusam
Melipat-lipat gambarmu dalam remasan kerinduan
            Aku mencintaimu
            Tak henti-henti aku bertanya pada malam
            “Masih setiakah dalam tidurmu”?
            Tak henti-henti memprotes siang
            Hujan angin, panas dingin semakin membara
            Aku mencintaimu...Aku Mencintaimu
            Ada danau kasih sayang
            Dialah pemilik sah Telaga Al-kausar

Apapun bentuk dan gaya ucapnya, puisi-puisi Djamal –seakan- ditulis dengan hati nurani sepenuh perasaan cinta, sehingga terasa getarannya, sebagaimana kata Zawawi, kalau puisi itu adalah kejujuran nurani dan estetik. Dalam pandangan yang sementara, Djamal menggarap puisi-puisinya dalam buku ini secara terbuka: jujur, lugas, dan nyaris tanpa hijab majasi. Namun salah satu hal yang mengagumkan adalah bagaimana ia memperjuangkan rima pada hampir seluruh puisinya. Sesuatu yang layak dihargai sebagai sebuah proses kreatif yang ketat, sebab memperjuangkan rima pada puisi, bukan perkara yang mudah. Maka wajar, jika puisi-puisinya kadang agak ‘kaku’ ketika dibaca.

Demikianlah puisi, kuat di satu sisi, kadang lemah di sisi lain. Namun yang terpenting dalam menulis puisi, karena mendengar suara dari hati, kata Adri. Dan Djamal melakukan itu semua dengan sadar dan baik. Secara utuh, buku ini seperti mengajak kita, bahwa mahar dalam setiap pernikahan harusnya adalah buku kumpulan puisi, atau paling tidak salah satu bagiannya, sehingga puisi, cinta dan wanita senantiasa bersama, baik dalam suka ataupun duka, tanpa saling melukai.
Selamat menempuh buku baru. Semoga bahagia.

Bekasi, 9 September 2015

Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-