12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 19 Juni 2015)

KEMATIAN: DI ANTARA INGAT DAN LUPA
OlehSofyan RH. Zaid

“Tak satu pun yang mau mati.
Bahkan orang yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati untukmencapainya.”
Steve Jobs - Apple

Jika ada sesuatu hal yang (ketika) kitamengingat dan melupakannya adalah anugerah, itulah kematian. Bayangkan jikakita terus ingat kematian, begitu tersiksanya hidup ini. Bayangkan juga jikakita terus lupa kematian, betapa angkuhnya diri ini. Itulah kenapa Muhammad SAWmenganjurkan: bekerjalah (untuk duniamu) seakan-akan kamu hidup seribu tahunlagi, beribadalah (untuk akheratmu) seakan-akan kamu mati besok pagi.

Banyak tokoh mencoba mendefinisikan kematianberdasarkan sudut pandangnya  masing-masing, misalnya Luper dalam The Philosophy of Death; kematian adalahberhentinya proses kehidupan (vitalprocess) tanpa bisa dipulihkan lagi. Namun definisi yang paling sederhanaadalah berpisahnya ruh (yang immortal)dari tubuh (yang mortal) untukselamanya. Pada hakekatnya kematian bukanlah kematian, melainkan gerbang untukmemasuki kehidupan selanjutnya. Dalam istilah Heidegger, yang menyebut manusia sebagaiyang “terlempar” ke dalam kehidupan, kematian tidak seperti membaca buku yangsampai pada bab penutup lalu tamat. Kematian bukanlah akhir, tetapi awal.

Ada banyak jenis kematian, misalnya dalamkhazanah tasawuf ada istilah “hati yang mati”. Al-Junaid menyindir orang yanghatinya mati sebagai mayat yang berjalan. Hati yang mati bila berdasar padaAl-Ghazali adalah tidak hadirnya Allah di dalamnya. Lain lagi dalam kajianfilsafat, kematian lebih dekat pada eksistensialisme, sehingga ada istilah "kematianeksistensial", yakni mirip dengan apa yang dituturkan Hume; ketika diritidak berguna lagi atau mengalami hidup yang buruk, tidak adil dan menderita,saat itu dia sudah mati. Itulah sebabnya bagi Hume, bunuh diri tidak menyalahi anugerahTuhan, karena “bisanya manusia untuk bunuh diri” adalah anugerah Tuhan juga.

Terlepas dari berbagai bentuk kematianmetaforis di atas, kematian sebagai suatu peristiwa memiliki dua bagan, yakni kematian personal dan kematian sosial. Kematian personaladalah mati secara pribadi. Ruh keluar dari tubuh menuju asalnya. Kapan dan dimana tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa lari jika waktunya tiba, tidakmaju dan tidak pula terlambat. Allah secara terbuka memberi peringatan: “Di mana saja kamu berada, kematian akan menemukanmu,kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, ...” (QSAn-Nisa 4:78). Sementara kematian sosial adalah kematian seorang manusiasebagai anggota keluarga atau masyarakat. Ada tangis, ada rasa kehilangan.Barangkali juga ada senyum, ada kebahagiaan ketika seseorang mati. Sebagaimana hadis:Apabilaseorang mukmin (baik) meninggal dunia, maka dia telah senang (istirahat) darikesusahan dunia. Dan jika seorang jahat yang meninggal, maka dia menyenangkanseluruh hamba Allah, seluruh negeri, seluruh pohon-pohon, dan binatang darikejahatannya.

Antarakematian personal dan kematian sosial sebenarnya saling terkait. Kematianpersonal seseorang tidak lantas menyebabkan kematiannya secara sosial, itulahsebabnya menurut Damm, kematian seseorang itu butuh orang lain untukmendeklarasikan kematiannya, barulah dia juga mati secara sosial. Orang yangbekerja di luar negeri lalu mati (secara personal), tidak ada yang saksi, tidakada kabar, maka dia akan tetap dianggap hidup (secara sosial) di keluarga ataumasyarakatnya untuk kemudian disebut menghilang dalam waktu lama, bukan mati.Begitu juga sebaliknya. Ternyata benar, kematian itu tidak sederhana. Tidaksesederhana perdebatan pemikiran antara Plato dan Aristoteles tentangnya. Seseorangbisa dengan damai mati secara personal, tetapi bisa jadi sangat ramai dandiributkan kematiannya secara sosial. Barangkali ini yang dimaksud Gerung bahwakematian itu hanya momen -bukan monumen-, ketakutan kita (pada kematian) akansedikit terhibur dengan adanya anggur dan bidadari.

Tidak ada yang mengerti benar kematian secarautuh, kecuali yang telah mengalaminya. Kematian tinggal di antara ingat danlupa. Senantiasa mengintai menyeringai tiap waktu. Namun kita tidak perlutakut, karena manusia memang harus mati, sebab jika tidak, apa jadinya.Bayangkan jika kita menjadi Tithonus dalam mitologi Yunani itu, mendapatanugerah (dari dewa) tidak bisa mati, tetapi tubuhnya terus menua. Kita hanyamenunggu waktu untuk mati. Hidup ini pun sangat singkat, itu sebabnya kitaharus berbuat banyak, dan “kita juga harus prihatin dengankehidupan dunia ini dan bergembiradengan kematian," kata Socrates.

Sebagaimana kelahiran, kematian adalahsesuatu yang biasa, hanya semoga saja, kita mati dengan cara yang indah.

Bekasi,17 Juni 2015 

Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-