12 Januari 2016

KHOTBAH KEBUDAYAAN (Jumat, 23 Oktober 2015)

MELIRIK TASAWUF
Oleh Sofyan RH. Zaid
“Tasawuf tidak tersusun dari praktik dan ilmu, tetapi merupakan akhlak. 
Siapapunyang melebihimu dalam akhlak, berarti melebihimu dalam tasawuf.”

Annemarie Schimmel
“Tahun-tahun belakangan ini sudah banyak diterbitkan buku-buku mengenai tasawuf dan kehidupan rohani dalam Islam. Masing-masing buku itu hanya menyentuh suatu sisi saja, sebab gejala yang biasanya disebut tasawuf begitu luas dan wujudnya begitu besar sehingga tiada seorangpun yang berani mencoba menggambarkannya secara utuh. Bagaikan orang-orang buta dalam kisah Rumi yang terkenal itu, ketika mereka menyentuh gajah, masing-masing menggambarkan sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuhnya: bagi si buta ini, gajah bentuknya seperti mahkota, bagi si buta itu seperti kipas, bagi yang lain seperti pipa air atau seperti tiang. Namun tidak ada seorangpun yang bisa membayangkan gajah seutuhnya itu seperti apa,” kata Friz Meir.
Bagi Dzun Nun, tasawuf berarti kesetiaan pada janji, tidak lelah mencari, dan tidak kecewa karena kehilangan. Kaum sufi adalah orang-orang yang lebih suka kepada Tuhan dari pada apapun. Dan semua itu kata Al-Junaid, tidak (tercapai) dengan banyak doa, zikir dan puasa semata, tetapi merupakan keamanan dan kedermawanan hati; tak memiliki apapun dan tak dimiliki oleh apapun. Tasawuf adalah kebebasan.
Namun meski demikian, Ibnu Taimiyah bilang, tasawuf merupakan hasil ijtihad dalam menjalankan agama dengan sebenar-benarnya, bahkan merupakan hasil ijtihad yang tulus untuk menunjukkan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya, meski tidak menutup kemungkinan adanya unsur-unsur bi-dah di dalam tasawuf dan juga bukan satu-satunya cara.
Lebih jauh, Harun menyinggung perihal unsur luar (islam) yang mempengaruhi tasawuf; misalnya pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara yang dilakukan para rahib, seperti halnya zuhud. Selanjutnya, pengaruh filsafat mistik Pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai ‘orang asing’. Badan merupakan penjara bagi roh, kesenangan dan kebebasan roh adalah di alam samawi. Untuk sampai pada tingkat itu, manusia harus membersihkan rohnya dengan meninggalkan yang material.
Selain itu, Harun juga menyebutkan tasawuf dipengaruhi filsafat amanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh jadi kotor, dan untuk dapat kembali ke asalnya Roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian Roh adalah dengan mendekati Tuhan sedekat-dekatnya. Serta pengaruh ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus bisa meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham Fana yang terdapat dalam tasawuf hampir serupa dengan faham Nirwana. Dan yang terakhir adalah ajaran Hindu yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.
Sampai hari ini, tasawuf berkembang secara pesat, melalui buku-buku, majelis-majelis, dan sebagainya sebagai salah satu mozaik Islam ataupun satu disiplin keilmuan. Bersamaan dengan itu juga, tasawuf tetap tidak pernah lepas dari perdebatan dan kritikan. Melirik fenomena ini, menarik ketika Nasr menulis dalam The Garden Of Truth; Untuk mencari jalan menuju Taman Kebenaran dan mengikutinya hingga ujung, orang tidak harus mengusai berbagai pengetahuan tentang tarekat sufi dan tulisan-tulisan makrifat. Orang bisa menjadi seorang suci-sufi di pegunungan Pamir, tanpa pernah mendengar tentang tarekat Tijaniyah di Senegal. Jadi, kapan, di mana dan dalam keadaan apapun saat kamu ingat lalu rindu pada Allah, itulah tasawuf.
Bogor, 23 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

terimakasih atas kunjungannya

"apa yang berharga pada tanah liat ini selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi"

-goenawan moehamad-